BANYUWANGI, DOMAIN RAKYAT. COM – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mulai merevitalisasi Pasar Induk Banyuwangi serta menata kawasan Asrama Inggrisan Banyuwangi dengan total anggaran Rp 190 miliar yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2024–2025.
Dua proyek strategis tersebut diharapkan menjadi pengungkit baru pertumbuhan ekonomi daerah, mulai dari sektor perdagangan, UMKM, hingga pariwisata heritage di Kabupaten Banyuwangi, (13/05/26).
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan revitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat mendukung percepatan pembangunan Banyuwangi yang selama ini dikenal aktif mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Mudah-mudah tahun 2025, Banyuwangi akan memiliki lompatan destinasi pariwisata yang lebih hebat. Sepuluh tahun lalu saya datang menghadiri festival, sekarang hadir di Banyuwangi Ethno Carnival 2024. Saya kira ini adalah bentuk kreativitas masyarakat Banyuwangi yang luar biasa,” kata Basuki dalam keterangan tertulis yang dikutip Senin (15/7/2024).
Pekerjaan revitalisasi dilakukan Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur dengan pembiayaan APBN TA 2024–2025 sebesar Rp190 miliar.
Direktur Prasarana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Essy Asiah, menjelaskan revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi dilakukan dengan konsep pasar modern berbasis Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang lebih nyaman, sehat, dan ramah lingkungan.
Selain meningkatkan kualitas bangunan, proyek tersebut juga memperluas kapasitas pasar hingga mampu menampung 777 unit tempat usaha yang terdiri dari 194 kios dan 583 los.
Pasar Induk Banyuwangi akan dibangun dua lantai di atas lahan seluas 10.600 meter persegi dengan total luas bangunan mencapai 15.873 meter persegi.
“Dengan dibangunnya pasar rakyat yang sehat dan higienis, diharapkan mampu meningkatkan sarana perdagangan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Banyuwangi,” ujar Essy.
Tidak hanya pasar, pemerintah pusat juga melakukan penataan kawasan Asrama Inggrisan Banyuwangi yang berdiri di atas lahan seluas 8.960 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 3.578 meter persegi.
Asrama Inggrisan merupakan bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1776 dan kini menjadi salah satu cagar budaya penting di Banyuwangi.
Essy menegaskan revitalisasi kawasan tersebut tetap mempertahankan fasad asli bangunan sebagai bentuk pelestarian nilai sejarah dan arsitektur heritage yang dimiliki Banyuwangi.
“Sebagian bangunan yang saat ini digunakan sebagai asrama TNI AD merupakan bangunan cagar budaya, sehingga karakter dan bentuk aslinya tetap dipertahankan,” jelasnya.
Penataan Asrama Inggrisan diyakini akan memperkuat daya tarik wisata sejarah di Banyuwangi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
“Revitalisasi Asrama Inggrisan akan memperkuat daya tarik pariwisata Banyuwangi dan tentu berdampak pada peningkatan ekonomi lokal,” tutup Essy.
(Indra).



Tinggalkan Balasan