Berita

Kezia Syifa Pilih Garda Nasional AS, Inilah Alasannya Lepas Status WNI

kezia syifa
Kezia Syifa, WNI asal Tangerang, yang bergabung dengan Army National Guard AS sejak 2025.(tangkapan layar)

KENDARI, Domainrakyat.com – Nama Kezia Syifa mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial setelah beredar video emosional yang memperlihatkan momen pelepasan dirinya oleh keluarga di sebuah bandara di Amerika Serikat. Dalam video yang viral tersebut, Syifa tampak mengenakan seragam cokelat bertuliskan “US Army”, menandai langkah besar seorang warga negara Indonesia yang memilih bergabung dengan Army National Guard di Maryland, Amerika Serikat.

Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun Instagram @bunda_kesidaa dan dengan cepat menyedot perhatian publik. Tangis haru, pelukan keluarga, serta ekspresi tegar Syifa menjadi simbol keputusan hidup yang tidak ringan—sebuah pilihan yang bukan hanya menyangkut karier, tetapi juga identitas kebangsaan.

Latar Belakang Pilihan Karier di Negeri Paman Sam

Ibunda Syifa, Safitri, mengungkapkan bahwa keputusan anaknya bukanlah langkah spontan. Ketertarikan Syifa terhadap Garda Nasional AS tumbuh sejak ia menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Syifa diketahui bersekolah di AS sejak 2023 dan menyelesaikan pendidikannya pada 2025.

Menurut Safitri, selepas kelulusan, Syifa memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan sekaligus membangun karier yang menantang. Pilihan tersebut jatuh pada Army National Guard Maryland, institusi yang menurutnya memberikan peluang pendidikan, kedisiplinan, serta kemandirian yang sejalan dengan cita-cita putrinya.

Proses Peralihan Kewarganegaraan

Keputusan ini turut membawa konsekuensi besar, yakni proses perpindahan status kewarganegaraan. Safitri menjelaskan bahwa saat ini Syifa masih berstatus WNI, namun tengah menjalani proses administrasi untuk menjadi warga negara Amerika Serikat setelah resmi lulus sebagai anggota Garda Nasional.

Keluarga mengakui bahwa keputusan tersebut telah dibahas secara matang sejak awal. Tidak ada paksaan, tidak pula keraguan yang tersisa. Syifa memahami sepenuhnya konsekuensi hukum yang berlaku baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat.

Bukan ke Medan Perang, Tapi di Balik Layar

Kekhawatiran keluarga sempat muncul ketika mendengar pilihan Syifa bergabung dengan militer. Namun kekhawatiran itu perlahan mereda setelah mengetahui bahwa Syifa mendaftar pada bidang administrasi dan logistik, bukan pasukan tempur.

Safitri menegaskan bahwa posisi yang akan dijalani putrinya berada di back office atau pekerjaan administrasi. Artinya, Syifa tidak akan diterjunkan langsung ke medan perang, melainkan menjalankan fungsi pendukung yang krusial dalam sistem militer modern.

Kisah Kezia Syifa menjadi cerminan kompleksitas pilihan generasi muda di era global—antara mimpi, karier, dan identitas. Sebuah keputusan besar yang menuai perhatian, perdebatan, sekaligus empati publik.

Exit mobile version