Scroll untuk baca artikel
Berita UtamaDaerahKalteng

LAMPU PENERANG MATI:BUNDAR 1 KULA PEMBUANG GELAP GULITA,IKON KOTA YANG TERABAIKAN.

×

LAMPU PENERANG MATI:BUNDAR 1 KULA PEMBUANG GELAP GULITA,IKON KOTA YANG TERABAIKAN.

Sebarkan artikel ini

DOMAINRAKYAT.com// KUALA PEMBUANG  //— Kondisi Bundaran 1 di kawasan Jalan Ahmad Yani, Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, memunculkan sorotan. Ikon kota yang sempat dipercantik melalui proyek renovasi pemerintah daerah itu kini tampak rusak dan gelap. Fasilitas pencahayaan tidak lagi berfungsi, sejumlah ornamen hilang, dan elemen dekoratif terlihat terbengkalai tanpa perawatan.

Bundaran yang berada di jalur utama dan menjadi simpul aktivitas warga tersebut sebelumnya dirancang sebagai penanda visual identitas kota. Namun pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari kesan representatif sebagai wajah ibu kota kabupaten.

Sejumlah lampu hias yang dahulu menyala terang pada malam hari kini padam. Instalasi tulisan nama kota yang sempat menjadi latar swafoto warga terlihat kusam, bahkan sebagian komponennya dilaporkan rusak. Pada beberapa titik, rangka dan material dekoratif tampak tidak terurus.

BACA JUGA:  Teken MOU Dengan Citilink, BNN Persempit Ruang Gerak Peredaran Narkotika.

Renovasi bundaran itu sebelumnya dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Seruyan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sebagai bagian dari program penataan ruang kota. Proyek tersebut diklaim untuk memperkuat estetika kawasan sekaligus menegaskan identitas Kuala Pembuang sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi daerah.

Namun kondisi terkini menimbulkan pertanyaan mengenai aspek pemeliharaan. Warga menilai, pembangunan fisik tanpa diimbangi sistem perawatan berkelanjutan berisiko menjadikan anggaran yang telah digelontorkan sia-sia.

“Dulu malam hari terlihat terang dan indah. Sekarang gelap dan banyak yang rusak. Sangat disayangkan,” ujar seorang warga yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

BACA JUGA:  POLSEK SERUYAN HULU BAGIKAN BANTUAN SOSIAL DI BULAN RAMADHAN,WUJUDKAN KEPEDULIAN DI UJUNG SERUYAN.

Persoalan tanggung jawab pengawasan juga menjadi sorotan. Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai pihak yang bertanggung jawab atas pemeliharaan rutin fasilitas tersebut. Ketidakjelasan itu memunculkan kekhawatiran publik terhadap tata kelola aset daerah.

Pengamat tata kota menilai, keberhasilan proyek infrastruktur publik tidak hanya diukur dari tahap pembangunan, melainkan juga dari keberlanjutan pengelolaannya. Tanpa monitoring rutin, pengamanan, dan alokasi anggaran pemeliharaan yang memadai, fasilitas publik rentan mengalami kerusakan berulang.

Bundaran bukan sekadar elemen lalu lintas, melainkan simbol ruang kota. Ketika simbol itu dibiarkan rusak, yang terdampak bukan hanya estetika, tetapi juga citra pemerintah daerah dalam mengelola pembangunan.

BACA JUGA:  400 Siswa Terbaik Lolos Seleksi Terpusat SPMB SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) 2026

Masyarakat kini menunggu langkah konkret: perbaikan menyeluruh, evaluasi sistem pengawasan, serta transparansi pengelolaan anggaran pemeliharaan. Tanpa itu, siklus renovasi dan kerusakan dikhawatirkan akan terus berulang, meninggalkan beban biaya dan kekecewaan warga.

*As*+(Rs)Kabiro Seruyan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!