Jakarta — Pergerakan harga bitcoin 2026 kembali mengguncang pasar aset digital global. Bitcoin sempat terperosok ke level US$60.299 atau sekitar Rp1,01 miliar, memicu kepanikan sekaligus perdebatan sengit di kalangan investor mengenai kapan gejolak ekstrem ini akan mereda. Tekanan jual yang kuat disebut berpotensi mengubah dinamika jangka panjang pasar kripto.
Berdasarkan laporan Bloomberg Technoz, tekanan tersebut terjadi seiring kedaluwarsanya kontrak opsi Bitcoin senilai US$2,2 miliar. Jika digabungkan dengan kontrak opsi Ethereum sebesar US$419 juta, total nilai kontrak yang berakhir mencapai lebih dari US$2,6 miliar. Situasi ini mendorong pelaku pasar melakukan reposisi portofolio secara agresif di tengah lonjakan volatilitas.
Nilai Bitcoin Kembali Uji Zona Kritis
Analis Greeks mencatat bahwa kisaran US$60.000 merupakan zona konsolidasi penting sebelum reli besar sebelumnya. Area ini dinilai masih memiliki dukungan teknikal yang cukup kuat, meski tekanan jangka pendek belum sepenuhnya reda. Para trader disebut aktif melepas posisi lindung nilai sembari mencari peluang beli jika penurunan berlanjut.
“Jika terjadi penurunan tajam dalam jangka pendek, kondisi tersebut justru bisa menjadi peluang akumulasi,” tulis analis Greeks, dikutip dari BeinCrypto, Jumat (6/2/2026). Pernyataan ini mencerminkan pandangan sebagian pelaku pasar yang melihat volatilitas ekstrem sebagai kesempatan, bukan sekadar ancaman.
Pada perdagangan Jumat siang waktu Indonesia, Bitcoin memang menunjukkan pemulihan terbatas dan bergerak di kisaran US$65.774 atau sekitar Rp1,1 miliar. Namun, sentimen pasar masih dibayangi rasa takut. Fear and Greed Index versi CoinMarketCap berada di level 5 dari 100, menandakan kondisi “extreme fear” yang jarang terjadi dan menunjukkan keengganan investor untuk mengambil risiko.
Bloomberg News mencatat, kejatuhan harga sempat menyentuh US$60.033, menjadi titik terendah sejak Oktober 2024. Pembalikan arah yang tajam ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mengguncang pasar keuangan dan menekan aset berisiko, termasuk kripto.
Chris Newhouse, Kepala Pengembangan Bisnis Ergonia, menilai ketakutan dan ketidakpastian kini sangat kentara. Ia menyoroti minimnya pembeli yang berani masuk saat tekanan jual meningkat, sementara penarikan dana ETF dan likuidasi masih berlanjut. Pandangan serupa disampaikan Shiliang Tang dari Monarq Asset Management yang menyebut pasar kripto sedang menghadapi “krisis kepercayaan”.
Sementara itu, analis FxPro Alex Kuptsikevich menilai Bitcoin telah kembali ke area resistensi kuat yang terbentuk sejak Maret hingga Oktober 2024. Kondisi ini, menurutnya, menjelaskan munculnya minat dari pemburu harga murah. Di tengah ketidakpastian, pergerakan harga bitcoin 2026 kini menjadi barometer utama bagi sentimen investor global terhadap masa depan aset digital.
