Scroll untuk baca artikel
Berita UtamaDaerahHeadlineKalteng

Mudik Tanpa Protokol, Wabup Serap Aspirasi di Kampung Halaman

Avatar photo
×

Mudik Tanpa Protokol, Wabup Serap Aspirasi di Kampung Halaman

Sebarkan artikel ini

Murung Raya, Domain Rakyat. Com//

Momentum Hari Raya Idulfitri dimanfaatkan Wakil Bupati Murung Raya Rahmanto Muhidin SHI. MH untuk kembali ke akar. Pada H+2 Lebaran, ia bersama istri, Dina Maulidah. SHI dan keluarga pulang kampung ke Desa Maruwei II. Namun kali ini, kepulangan itu bukan dalam kapasitas sebagai pejabat daerah, melainkan sebagai anak kampung yang rindu tanah kelahiran.

Perjalanan menuju desa terasa berbeda. Bukan sekadar rutinitas mudik, tetapi seperti panggilan emosional yang mengikat kembali pada jejak masa lalu. “Setiap jengkal jalan seperti menyimpan cerita,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Polres Seruyan Gelar Shalat Idul Fitri 1447 H,Wujud Kekompakan dan Kehidmatan di Hari Kemenangan.

Setibanya di desa, tidak ada penyambutan resmi. Tidak ada protokol ketat. Yang ada hanyalah kehangatan khas kampung: senyum keluarga, jabat tangan warga, dan sapaan yang akrab tanpa sekat. Ia pun melebur, kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Di berbagai sudut desa—mulai dari beranda rumah, warung kecil, hingga pinggir jalan—percakapan berlangsung cair. Warga menyampaikan beragam hal secara terbuka: dari harga kebutuhan pokok, kondisi infrastruktur jalan, hingga cerita keseharian. Semua disampaikan apa adanya, tanpa formalitas.

Wakil Bupati memilih mendengar. Bukan sekadar sebagai pejabat yang menerima laporan, tetapi sebagai saudara yang menangkap langsung denyut kehidupan masyarakat. Baginya, ruang-ruang informal justru menghadirkan kejujuran yang sering kali tidak muncul dalam forum resmi.

BACA JUGA:  Polsek Hanau Patroli KKYD Pasca Lebaran, Jaga Sitkamtibmas Tetap Kondusif

“Keluhan di kampung halaman biasanya lebih jernih dan lugas. Tidak dibungkus, tidak ditahan,” katanya.

Ia menegaskan, jabatan hanyalah titipan. Sementara hubungan dengan masyarakat adalah ikatan yang tidak bisa digantikan oleh posisi apa pun. Karena itu, momen pulang kampung dimanfaatkannya bukan hanya untuk melepas rindu, tetapi juga menyerap aspirasi secara langsung.

Menurutnya, kepemimpinan yang efektif tidak lahir dari jarak, melainkan dari kedekatan. “Memimpin bukan tentang berdiri di atas, tapi duduk bersama,” tegasnya.

BACA JUGA:  Hampir 6 Bulan Belum Ditetapkan Tersangka, Penanganan Kasus Anak Nova Indra Fitriansyah di Polresta Banyuwangi Kuasa Hukum Angkat Bicara

Pengalaman tersebut kembali mengingatkannya bahwa kebijakan yang tepat berakar dari realitas di lapangan. Ketika pemimpin tetap membumi, arah pembangunan tidak akan kehilangan pijakan.

Kepulangan ke Desa Maruwei II menjadi refleksi sederhana namun mendalam: sejauh apa pun langkah merantau, rumah tetap menjadi tempat kembali. Dan bagi seorang pemimpin, rakyat adalah alasan utama untuk terus kembali dan mendengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!