Internasional

Harapan Damai di Sharm el-Sheikh: Pertukaran Sandera Israel dan Tahanan Palestina Jadi Titik Terang Negosiasi

4
sandera israel dan tahanan palestina
Kendaraan militer Israel bermanuver di dekat perbatasan Israel-Gaza, terlihat dari Israel, 19 September 2025. (dok: REUTERS)

SHARM EL-SHEIKH (Domainrakyat.com) — Harapan baru muncul dalam krisis berkepanjangan di Gaza setelah Hamas menyerahkan daftar sandera Israel dan tahanan Palestina yang akan dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran. Langkah ini menjadi sorotan utama dalam pembicaraan damai di Mesir yang digagas untuk menghentikan perang dan membuka jalan menuju rekonstruksi Gaza.

Negosiasi yang berlangsung di kota resor Sharm el-Sheikh itu difokuskan pada mekanisme penghentian konflik, penarikan pasukan Israel, dan pembahasan detail mengenai pertukaran tahanan. Hamas menyatakan optimismenya terhadap rencana 20 poin yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakhiri perang berdarah tersebut.

Meski demikian, hingga Rabu malam belum ada kesepakatan final mengenai waktu pelaksanaan tahap pertama dari inisiatif perdamaian itu. Sumber Palestina yang dekat dengan perundingan menyebutkan bahwa pembicaraan masih berkutat pada teknis pelaksanaan dan jaminan keamanan bagi kedua pihak.

Diplomasi Rumit dan Upaya Perdamaian

Trump, melalui utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat Timur Tengahnya, mengungkapkan keyakinan bahwa kesepakatan akan segera tercapai. Namun, para pejabat dari semua pihak menyerukan kehati-hatian terhadap prospek tercapainya kesepakatan cepat di tengah medan politik yang sangat rapuh.

Dari pihak Israel, Menteri Urusan Strategis Ron Dermer — orang kepercayaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu — dijadwalkan bergabung dalam perundingan. Sementara itu, mediator utama dari Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, serta kepala intelijen Turki, Ibrahim Kalin, juga hadir untuk menjembatani proses negosiasi yang penuh ketegangan.

Hamas mengajukan tuntutan gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan Israel, dan dimulainya rekonstruksi Gaza di bawah pengawasan badan teknokratis Palestina. Di sisi lain, Israel bersikeras agar Hamas melucuti senjatanya — tuntutan yang hingga kini masih ditolak keras.

Pejabat AS menegaskan bahwa fokus utama pembicaraan adalah penghentian pertempuran dan teknis pembebasan sandera Israel dan tahanan Palestina. Namun, tanpa adanya kesepakatan gencatan senjata, serangan udara Israel masih terus menghantam Gaza, memperparah krisis kemanusiaan dan meningkatkan tekanan internasional terhadap Tel Aviv.

Hampir seluruh warga Gaza kini mengungsi, dengan 67.000 korban jiwa tercatat menurut otoritas setempat. Dunia internasional mengecam keras tindakan Israel, sementara Tel Aviv tetap menyebut serangannya sebagai tindakan pembelaan diri setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menculik 251 warga Israel ke Gaza.

Situasi ini menempatkan Sharm el-Sheikh sebagai panggung diplomasi paling menentukan dalam sejarah konflik modern Timur Tengah. Dunia menanti apakah langkah pertukaran sandera dan tahanan dapat menjadi awal dari perdamaian yang selama ini hanya tinggal janji.

Exit mobile version