Domainrakyat.com – Israel Kembali Menggempur Gaza pada Sabtu pagi (3/1/2026), menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina dalam serangan yang kembali mengguncang wilayah pesisir tersebut. Informasi dari otoritas rumah sakit setempat menyebutkan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, mempertegas dampak besar konflik terhadap warga sipil yang tak berdaya. Insiden ini menjadi salah satu hari paling mematikan sejak gencatan senjata Israel–Hamas disepakati pada Oktober 2025.
Pejabat medis di Gaza mengungkapkan, korban berasal dari dua keluarga berbeda. Rumah Sakit Shifa di Gaza City melaporkan satu ibu, tiga anaknya, serta seorang kerabat tewas akibat serangan langsung ke kawasan permukiman. Sementara di Khan Younis, Rumah Sakit Nasser mencatat tujuh korban jiwa setelah serangan menghantam kamp tenda pengungsi dan memicu kebakaran hebat.
Serangan Terbaru Israel Uji Ketahanan Gencatan Senjata
Rangkaian serangan ini kembali mempertanyakan ketahanan kesepakatan gencatan senjata yang selama ini dinilai rapuh. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 500 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025. Data tersebut berasal dari otoritas kesehatan di bawah pemerintahan Gaza yang dipimpin Hamas.
Hingga kini, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan terbaru tersebut. Di sisi lain, Israel dan Hamas saling menuding sebagai pihak yang melanggar kesepakatan, menyusul konflik bersenjata selama dua tahun terakhir yang telah meluluhlantakkan Gaza dan memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Serangan ini juga terjadi sehari sebelum rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir. Rafah merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk bagi hampir dua juta warga Gaza dan telah ditutup sejak perang pecah, kecuali pembukaan terbatas untuk evakuasi medis pada awal 2025.
Warga Palestina memandang Rafah sebagai harapan terakhir, terutama bagi pasien yang membutuhkan perawatan di luar wilayah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 20.000 warga Gaza membutuhkan penanganan medis akibat rusaknya fasilitas kesehatan.
Israel sendiri mengaitkan pembukaan Rafah dengan isu sandera yang masih ditahan Hamas. Pejabat Israel menegaskan pengembalian sandera, hidup maupun meninggal, menjadi syarat utama. Meski demikian, rencana pembukaan terbatas Rafah disebut sejalan dengan inisiatif perdamaian 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan pembatasan arus balik ke Gaza maksimal 150 orang per hari.
Pejabat Palestina memperkirakan sekitar 100.000 warga telah meninggalkan Gaza sejak perang dimulai—sebuah angka yang mencerminkan memburuknya kondisi keamanan dan kemanusiaan di wilayah tersebut.





