SERUYAN– DOMAINRAKYAT.com// Dentang lonceng pulang sekolah pukul 11.00 WIB bersahutan dengan rintikan hujan yang membasahi ruas jalan lurus depan SDN 1 Kuala Pembuang. Tanpa persimpangan, tanpa zebra cross, bahkan tanpa pembatas yang jelas, puluhan seragam merah putih harus menyeberangi jalan raya yang padat—sebuah garis lurus aspal basah yang menjadi penghalang antara mereka dan pulang ke rumah.
Di titik itulah, AIPDA Heru Supriyanto bersama tim piket PAMAPTA III Polres Seruyan menempatkan diri, tepat di tengah-tengah jalan lurus yang biasanya hanya dilalui kendaraan dengan kecepatan konstan. Hari ini, mereka mengubah fungsi ruas jalan itu, menciptakan titik penyeberangan di tempat yang tidak dirancang untuk itu.

“Kendaraan dari arah utara, harap kurangi kecepatan! Ada anak-anak menyeberang!” teriak AIPDA Heru dengan suara membahana, tubuhnya berdiri tegak di lajur jalan, tangan terbuka lebar sebagai tanda berhenti. Beberapa meter di belakangnya, anggota lain membentuk barisan pelindung, mengarahkan siswa-siswi untuk berkumpul dengan rapi.
Di jalan lurus seperti ini, tantangannya justru lebih besar. Pengendara cenderung mempertahankan kecepatan karena tidak mengira akan ada titik penyeberangan. Tim harus bekerja ekstra keras menarik perhatian mereka dari jauh. Seorang anggota berdiri beberapa puluh meter sebelumnya, memberikan tanda peringatan dengan peluit panjang dan gerakan tangan yang jelas.
“Di jalan lurus, kewaspadaan kita harus berlipat,” ujar salah satu anggota sambil memandu sekelompok siswa menyeberang dengan cepat. “Tidak ada persimpangan yang secara alami membuat pengendara mengurangi kecepatan. Kitalah yang harus menciptakan ‘persimpangan semu’ ini dengan kehadiran dan komando.”
AIPDA Heru, dengan seragam coklatnya yang sudah basah, menjelaskan strategi mereka: “Kami membagi tiga zona. Zona peringatan jauh, zona pengaturan utama tempat anak-anak menyeberang, dan zona pengamanan di seberang jalan. Di jalur lurus, sistem berlapis ini penting untuk mengkompensasi tidak adanya fitur jalan yang mendukung.”
Saat menyeberangkan seorang siswa kelas satu yang menggenggam erat tangan temannya, AIPDA Heru berjongkok agar sejajar dengan anak itu. “Lihat ke kiri dan kanan, Nak. Dengarkan peluit om-om polisi. Kalau om bilang ‘ayo’, baru jalan.” Edukasi kecil di tengah kesibukan, mengajarkan keselamatan meski di tempat yang tidak disediakan untuk penyeberangan.
Setelah arus penyeberangan utama selesai, tim masih harus menghadapi kendaraan yang mulai meningkatkan kecepatan kembali. Seorang pengendara motor terlihat kesal karena diharuskan berhenti. Dengan sabar, seorang anggota menghampirinya. “Maaf, Pak. Ini untuk keselamatan anak-anak. Di jalan lurus seperti ini, kalau tidak kami yang atur, mereka bisa celaka.”
Sekitar satu jam kemudian, tugas mereka berakhir. Jalan lurus itu kembali berfungsi seperti biasa—ruas aspal basah yang dilalui kendaraan dengan lancar. Tim berkumpul di tepi jalan, mengevaluasi singkat kinerja mereka hari itu.
“Mungkin secara teknis, ini bukan tempat yang ideal untuk penyeberangan sekolah,” ujar AIPDA Heru sambil menatap gedung sekolah di seberang jalan. “Tapi realitanya, inilah lokasi mereka setiap hari. Dan tanggung jawab kitalah untuk menciptakan keamanan di tempat yang tidak aman secara desain.”
Sebelum pergi, mereka masih menyempatkan memberi pengarahan singkat kepada petugas keamanan sekolah. “Besok, kami akan kembali dengan formasi yang sama,” janji AIPDA Heru. “Di jalan lurus ini, di aspal yang mungkin akan basah lagi, kami akan tetap berdiri sebagai ‘pulau’ sementara—titik aman di tengah arus kendaraan yang mengalir deras, memastikan setiap seragam merah putih mencapai seberang dengan selamat.” (Rn)