Samarinda, Domainrakyat.com — Dampak pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat mulai dirasakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim). Kondisi ini membuat Gubernur Kaltim minta OPD bergerak cepat agar program pembangunan tidak mandek dan serapan anggaran tetap optimal meski fiskal daerah tengah menurun drastis.
Pemangkasan dana yang mencapai hingga 75 persen ini menjadi ujian berat bagi keuangan daerah. Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh, menegaskan bahwa di tengah keterbatasan tersebut, Pemprov harus tetap memprioritaskan pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik. “Meski dana berkurang, infrastruktur tetap harus berjalan. Pemerintah daerah tidak boleh berhenti berinovasi,” ujarnya tegas.
OPD Diminta Tingkatkan Kinerja dan Serapan Anggaran
Dalam arahannya, Gubernur Kaltim menekankan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mempercepat realisasi anggaran dan meminimalkan sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA). Ia menargetkan angka SiLPA tidak lebih dari tiga persen, terutama di perangkat yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
Selain mempercepat serapan, gubernur juga mengingatkan pentingnya menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD) secara maksimal. “Kemandirian fiskal daerah perlu terus didorong di tengah efisiensi akibat pemangkasan dana pusat. Kita harus gali lebih dalam potensi PAD yang belum tergarap,” ujarnya.
Potensi PAD yang disebut antara lain berasal dari pajak air permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB), pajak alat berat, serta retribusi kapal tongkang yang melintas di wilayah Kaltim. Tak hanya itu, pemanfaatan aset daerah yang selama ini belum produktif juga diharapkan menjadi sumber baru bagi pendapatan daerah.
Gubernur menutup arahannya dengan ajakan untuk berinovasi. “Tolong buat pemetaan dan terobosan agar PAD Kaltim bisa meningkat. Jangan menunggu bantuan pusat, karena daerah harus bisa mandiri,” tegasnya.
Dengan langkah-langkah cepat dan kebijakan strategis, diharapkan Pemprov Kaltim tetap mampu menjaga roda pembangunan tetap berputar di tengah badai fiskal akibat pemangkasan dana pusat.
