Scroll untuk baca artikel
Nasional

Family Office: Proyek Ambisius Luhut yang Ditolak Dibiayai APBN oleh Purbaya

×

Family Office: Proyek Ambisius Luhut yang Ditolak Dibiayai APBN oleh Purbaya

Sebarkan artikel ini
family office
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: KEMENKO MARVES)

Jakarta — Ketegangan baru muncul di lingkar ekonomi pemerintahan. Proyek family office, gagasan ambisius Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, resmi ditolak pembiayaannya oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sang Bendahara Negara menegaskan, proyek tersebut tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), meskipun Luhut telah mendorongnya sejak lama.

Apa Itu Family Office?

Family office atau Wealth Management Consulting (WMC) merupakan lembaga pengelola kekayaan yang dirancang untuk melayani individu atau keluarga dengan aset sangat besar. Konsep ini memungkinkan para miliarder dunia mengelola dan menanamkan modalnya di Indonesia dengan insentif pajak yang menarik.

Proyek ini telah menjadi ide lama Luhut sejak ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi di era Presiden Joko Widodo. Rencananya, DEN akan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pusat Keuangan dan Family Office di Bali, yang akan menjadi magnet investasi global dan gerbang bagi dana asing masuk ke berbagai sektor riil nasional.

Ambisi Luhut dan Penolakan Purbaya

Meski perencanaan telah dimulai sejak 2024 dan sempat dijadwalkan berjalan pada Februari 2025, proyek ini masih terhambat di tahap finalisasi. Luhut mengaku optimis family office tetap akan berlanjut di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan menargetkan peluncuran pada tahun ini.

“Saya kira masih berjalan, kita lagi kejar terus. Kita harap bisa segera diputuskan Presiden,” ujar Luhut di Gedung Bursa Efek Indonesia, (28/7/2025).

Namun, semangat itu berhadapan dengan ketegasan Menteri Keuangan.
Purbaya menolak keras penggunaan dana negara untuk proyek tersebut.

“Kalau DEN bisa bangun sendiri, ya bangun saja sendiri. Saya anggarannya nggak akan alihkan ke sana,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa APBN hanya akan difokuskan untuk program yang tepat sasaran, efisien, dan bebas kebocoran, bukan untuk proyek yang belum jelas konsep dan manfaat publiknya.
Purbaya bahkan mengaku belum sepenuhnya memahami rancangan family office tersebut.

“Saya belum terlalu ngerti konsepnya, walaupun Pak Ketua DEN sering bicara,” katanya dengan nada datar namun penuh makna.

Sinyal dari Investor Global

Meski menghadapi penolakan domestik, Luhut mengklaim proyek ini telah menarik perhatian investor global. Ia bahkan meminta masukan dari miliarder Amerika Serikat Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates — hedge fund terbesar di dunia. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengubah wajah Indonesia menjadi pusat keuangan kelas dunia.

Namun, hingga kini, rencana tersebut masih menyisakan tanda tanya besar:
Apakah family office akan menjadi langkah strategis menuju Indonesia baru, atau sekadar ambisi megah tanpa pijakan fiskal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!