Gowa – Program PKM UTS (Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Teknologi Sulawesi) menjadi cahaya harapan baru bagi warga Desa Bonto Langkasa Utara, Kabupaten Gowa. Melalui hibah dari DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2025, tim PKM menghadirkan alat pencetak batu bata merah dan pelatihan manajemen usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ini dipimpin oleh Hijrah Amaliah Azis, dosen Prodi Kimia, yang sebelumnya telah melakukan observasi di lapangan. Ia melihat potensi besar pada industri rumah tangga batu bata di desa tersebut, namun masih terkendala oleh proses produksi manual yang lambat dan melelahkan.
“Dengan alat pencetak ini, kami berharap bisa meningkatkan jumlah produksi secara signifikan dan mengurangi beban kerja warga,” jelas Hijrah. Pelatihan juga dilakukan dalam bentuk sosialisasi penggunaan alat dan pendampingan usaha, termasuk pengelolaan pembukuan dan pemasaran digital.
Dr. Ida Ifdaliah Amin menambahkan bahwa batu bata yang dihasilkan dari alat tersebut memiliki kualitas tinggi dan dapat digunakan untuk konstruksi yang membutuhkan ketahanan lebih. Sementara itu, Sukaini, dosen Manajemen, mendorong warga untuk memanfaatkan media sosial dan platform digital seperti Facebook Marketplace dan Shopee untuk memperluas pasar.
“Pemasaran digital bukan hanya murah, tapi juga sangat efektif untuk menjangkau pembeli dari luar daerah,” ungkapnya.
Setelah sesi pelatihan, warga mengikuti demonstrasi penggunaan alat cetak batu bata merah yang langsung diujicobakan. Ketua kelompok industri, Amrulla Daeng Tojeng, merasa terharu dan bangga menjadi mitra PKM ini. “Baru kali ini ada bantuan seperti ini masuk ke wilayah kami,” ujarnya.
Dukungan alat dan pelatihan ini membawa dampak besar dalam efisiensi produksi dan pemahaman manajemen usaha. Tim PKM UTS yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari lintas prodi berharap bahwa langkah kecil ini dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dan membuka lebih banyak peluang untuk usaha mikro yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan PKM UTS ini, harapan akan masa depan yang lebih baik bagi para pembuat batu bata kini semakin nyata, dengan bantuan teknologi yang menyentuh langsung kehidupan mereka.
