News

Harapan Baru di Balik Jeruji: Kebun Sarana Asimilasi Lapas Bulukumba Diresmikan pada HUT RI ke-80

Kebun Sarana Asimilasi Lapas
Bupati Bulukumba meresmikan Kebun Sarana Asimilasi Lapas Bulukumba, Minggu (17/8/2025)(Ist)

Bulukumba – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia menjadi momen bersejarah bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bulukumba. Tidak hanya sekadar seremoni, pada Minggu (17/8/2025), Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf meresmikan Kebun Sarana Asimilasi Lapas Bulukumba yang digagas sebagai ruang pembinaan produktif bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Peresmian ini menandai babak baru pembinaan di balik jeruji besi. Jika sebelumnya upacara pemberian remisi selalu digelar di dalam tembok Lapas, tahun ini suasana berbeda terasa. Acara berlangsung di lahan produktif yang dikelola WBP, lengkap dengan panen hasil pertanian yang menjadi bukti nyata kemandirian pangan.

Berdasarkan data, total penghuni Lapas Bulukumba mencapai 495 orang, dengan 272 di antaranya menerima remisi umum, dan 318 lainnya memperoleh remisi istimewa Dasawarsa. Bahkan, tiga orang langsung dinyatakan bebas berkat remisi tersebut. Momentum penuh haru ini semakin bermakna ketika disaksikan langsung oleh jajaran Forkopimda Bulukumba, Wakil Bupati, Ketua TP-PKK, hingga Sekda.

Kalapas Kelas IIA Bulukumba, Akbar Amnur, menegaskan bahwa kebun ini bukan sekadar proyek pertanian. “Sarana Asimilasi dan Edukasi ini adalah simbol pembinaan, tempat WBP belajar, bekerja, dan berkontribusi nyata. Hasil panen digunakan untuk kebutuhan warga binaan, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional,” ujarnya penuh semangat.

Selain itu, acara juga dimeriahkan dengan Porseni antar WBP dan petugas, bakti sosial, pemeriksaan kesehatan, hingga peresmian Gugus Depan Pramuka bagi narapidana. Puncaknya, para WBP menampilkan teatrikal perjuangan kemerdekaan, seolah ingin membuktikan bahwa di balik jeruji pun semangat nasionalisme tetap menyala.

Harapan besar lahir dari kebun ini—bahwa warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, melainkan juga dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat sebagai individu yang produktif, berkarakter, dan berdaya guna. Inilah langkah nyata menuju sistem pemasyarakatan yang lebih humanis dan inklusif.

Exit mobile version