Domainrakyat.com – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara pada akhir November lalu menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar tahun ini. Di tengah lebih dari 1.000 korban jiwa dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal, perhatian publik justru tersedot pada sikap dan pernyataan sejumlah pejabat negara yang dinilai tidak mencerminkan empati terhadap penderitaan masyarakat terdampak.
Sorotan publik bermula dari pernyataan hingga gestur yang terekam dan menyebar luas di media sosial. Berikut deretan ucapan dan tindakan para penyelenggara negara yang menuai kritik tajam di tengah duka Sumatra.
1. Presiden Prabowo Subianto dan Rencana Sawit di Papua
Presiden Prabowo Subianto menjadi figur pertama yang disorot setelah menyampaikan rencana perluasan perkebunan sawit di Papua sebagai upaya swasembada energi. Pernyataan tersebut disampaikan saat duka bencana Sumatra belum usai, sehingga memicu reaksi keras publik.
Sebelumnya, Presiden juga menyampaikan bahwa bantuan pemerintah kepada korban bencana tidak bisa dilakukan secara instan. Ungkapan “tidak punya tongkat Nabi Musa” yang ia lontarkan saat menemui korban di Aceh Tengah dinilai sebagian masyarakat kurang sensitif, meski pemerintah tetap menjanjikan pembangunan hunian sementara dan hunian tetap.
2. Kepala BNPB: “Saya Tidak Mengira Sebesar Ini”
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto turut menuai kritik setelah menyatakan terkejut melihat besarnya dampak banjir di Tapanuli Selatan. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan laporan awal yang sebelumnya ia anggap berlebihan di media sosial.
Meski Suharyanto telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, publik menilai pernyataan awalnya mencerminkan lemahnya kepekaan dalam membaca kondisi darurat bencana.
3. Menteri ESDM Bahlil dan Penyangkalan Faktor Tambang
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut bahwa bencana di Sumatra Barat tidak berkaitan dengan aktivitas pertambangan. Pernyataan ini dinilai prematur, mengingat proses investigasi belum sepenuhnya rampung.
Di tengah suasana berduka, Bahlil juga mengusulkan pembentukan koalisi permanen politik dalam forum HUT Partai Golkar. Usulan tersebut dianggap tidak sensitif terhadap situasi kebencanaan yang masih berlangsung.
4. Zulhas dan Tuduhan Gimik di Lokasi Bencana
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menjadi sorotan setelah video dirinya makan sate sambil memegang cerutu viral di media sosial. Publik menilai gestur tersebut tidak pantas dilakukan saat korban bencana masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Sebelumnya, aksi Zulhas memanggul beras saat kunjungan ke Sumatra Barat juga dikritik karena dianggap sekadar pencitraan. Meski ia kemudian mengajak masyarakat fokus pada gotong royong, kritik telanjur meluas.
5. Ajudan Presiden dan Konten “A Day In My Life”
Ajudan Presiden Prabowo, Agung Surahman, juga tak luput dari kecaman setelah mengunggah vlog bertema “A Day In My Life” di tengah kunjungan kebencanaan. Video yang menampilkan aktivitas nyaman tersebut dinilai tidak mencerminkan empati terhadap warga yang sedang berduka.
Warganet menilai pembuatan konten personal di tengah krisis kemanusiaan sebagai bentuk ketidakpekaan moral.
6. Anggota DPR Endipat Wijaya Singgung Donasi Rp10 Miliar
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Gerindra, Endipat Wijaya, menuai kritik setelah membandingkan donasi masyarakat Rp10 miliar dengan anggaran negara yang disebut mencapai triliunan rupiah. Pernyataan tersebut dinilai meremehkan solidaritas publik.
Meski Endipat akhirnya meminta maaf secara pribadi kepada penggalang dana Ferry Irwandi, pernyataan itu terlanjur melukai rasa keadilan sosial dan memperkuat kritik terhadap sikap elit politik.
Rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat bahwa empati publik merupakan aspek krusial bagi pejabat negara, terutama ketika rakyat menghadapi bencana dan kehilangan. Kehadiran negara tidak hanya diukur dari anggaran dan kebijakan, tetapi juga dari kepekaan dan ketulusan sikap para pemimpinnya.





