Scroll untuk baca artikel
NewsPendidikan

Pakar Pendidikan Soal Kontroversi Tugas Biologi: Guru Minta Siswa Gambar Organ Reproduksi

20
×

Pakar Pendidikan Soal Kontroversi Tugas Biologi: Guru Minta Siswa Gambar Organ Reproduksi

Sebarkan artikel ini

Domainrakyat.com – Pada akhir April 2025, jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan video seorang guru biologi di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dalam video tersebut, sang guru merekam para siswanya yang tengah mengerjakan tugas menggambar organ reproduksi sesuai jenis kelamin masing-masing. Video ini kemudian diunggah ke akun media sosial pribadinya dan segera menjadi viral, memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Tugas tersebut diberikan dalam konteks pembelajaran mata pelajaran Biologi, dengan tujuan untuk membantu siswa memahami anatomi tubuh manusia secara visual. Namun, publik mempertanyakan etika dari metode pengajaran ini, terutama karena melibatkan penggambaran organ intim dan dipublikasikan secara terbuka.

Tanggapan Pakar Pendidikan: Pentingnya Konteks dan Pendekatan Edukatif

Menanggapi kontroversi ini, Holy Ichda Wahyuni, pakar pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), memberikan pandangannya. Menurut Holy, penting untuk melihat konteks, pendekatan, dan tujuan dari pembelajaran tersebut secara objektif sebelum memberikan penilaian.

BACA JUGA:  Ketua Umum WI Simalungun Drs Dameanto Purba Dilantik, Era Baru Pembinaan Atlet Dimulai

“Saya melihat isi kolom komentar video tersebut sedikit miris. Sebab akhirnya banyak tudingan dengan kata-kata tidak senonoh terhadap guru tersebut, seperti mohon maaf guru porno, guru sangean, itu kan sangat miris. Dari sini, sebenarnya siapa yang lebih layak dianggap sebagai pelaku pelecehan seksual? Sang guru, atau mereka yang menghakimi,” ujar Holy, dalam keterangannya seperti dikutip Basra, Sabtu (3/5).

Holy menekankan bahwa dalam ilmu biologi, memahami sistem reproduksi adalah bagian esensial dari kurikulum. Jika materi disampaikan secara ilmiah, edukatif, dan sesuai dengan usia perkembangan peserta didik, maka tindakan tersebut masuk dalam ranah pendidikan, bukan pelanggaran etika.

“Dalam ilmu biologi, memahami sistem reproduksi adalah bagian esensial kurikulum. Nah, jika situasinya guru menyampaikan ini secara ilmiah, edukatif, dan sesuai dengan usia perkembangan peserta didik, maka tindakan itu masuk dalam ranah pendidikan, bukan pelanggaran etika,” terang Holy.

BACA JUGA:  Program Belanja Paket Sembako Tebus Murah Disambut Antusias Masyarakat

Lebih lanjut, Holy menjelaskan bahwa dalam teori konstruktivis, dengan menggambar, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktif membangun pemahaman mereka. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dalam banyak budaya, pembicaraan tentang organ reproduksi manusia atau seksualitas masih dianggap tabu. Padahal, ketertutupan informasi seringkali menyebabkan remaja mencari tahu dari sumber yang tidak kredibel atau terpapar pornografi lebih dini.

Reaksi Pemerintah: Gubernur Jawa Barat Siap Bertindak

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memberikan tanggapan tegas terhadap kejadian ini. Ia menyatakan tidak akan mentolerir tindakan tersebut dan siap memberhentikan guru yang terlibat jika terbukti melanggar etika pendidikan.

BACA JUGA:  Tujuh Motor Tiga Roda untuk Kelompok Tani, Bupati Genjot Produktivitas

“Kalau guru itu ada, sebutkan gurunya dari sekolah mana, SMA mana, besok saya berhentikan,” tegas Dedi saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 29 April.

Dedi menyebut tindakan guru tersebut tidak mencerminkan semangat dunia pendidikan yang seharusnya mendidik dengan nilai-nilai etika. Ia juga berencana menelusuri langsung ke sekolah yang dimaksud.

Pentingnya Pendidikan Seksual yang Tepat

Kontroversi ini membuka diskusi lebih luas tentang pentingnya pendidikan seksual yang tepat di sekolah. Menurut Holy, edukasi seksual seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman moral, melainkan sebagai alat untuk menciptakan manusia yang sadar akan tubuh dan hak-haknya. Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan seksual dapat membantu remaja memahami diri mereka sendiri dan menghindari informasi yang menyesatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!