Bola

Malaysia Sulit Memenangi Banding ke FIFA, Pakar Sebut Bukti yang Dimiliki FAM Lemah

5
malaysia sulit memenangi banding
Malaysia Sulit Memenangi Banding ke FIFA, Pakar Sebut Bukti yang Dimiliki FAM Lemah. (Ist)

Domainrakyat.comMalaysia kini berada di ujung tanduk setelah mengajukan banding ke FIFA terkait skandal naturalisasi tujuh pemainnya. Namun, menurut pengacara senior hukum olahraga, Nik Erman Nik Roseli, Malaysia sulit memenangi banding tersebut karena Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) belum mampu menunjukkan dokumen asli yang diminta FIFA sebagai bukti keabsahan pemain.

“FAM mengklaim para pemain itu layak menjadi warga negara Malaysia. Tapi masalahnya bukan soal kewarganegaraan nasional, melainkan soal dokumen asli kakek atau nenek dari ketujuh pemain tersebut,” ungkap Nik Erman kepada New Straits Times. “Nyatanya, FIFA dengan mudah mendapatkan dokumen asli mereka yang menunjukkan asal-usul dari negara lain.”

Klaim FAM dan Ketegasan FIFA

Nik Erman, yang telah berpengalaman lebih dari dua dekade di bidang hukum olahraga, menilai bahwa perdebatan ini bukan sekadar soal legalitas administratif. FAM bersikukuh bahwa Departemen Registrasi Nasional (NRD) Malaysia sudah melakukan verifikasi kewarganegaraan terhadap tujuh pemain tersebut dan menyatakan semuanya sah.

Namun, FIFA berpegang teguh pada peraturan internasional tentang naturalisasi pemain. Berdasarkan hasil investigasi Komite Disiplin FIFA (FDC), ditemukan bahwa kakek dan nenek para pemain itu ternyata lahir di Argentina, Spanyol, dan Brasil—bukan di Malaysia seperti yang diklaim FAM.

“Ini bukan soal mereka warga negara Malaysia atau bukan menurut hukum nasional. Ini soal status mereka dalam aturan FIFA. Mereka tidak memenuhi syarat sebagai pemain naturalisasi,” tegas Nik Erman.

Sanksi Berat dan Peluang Banding yang Tipis

Sebagai konsekuensi, FIFA menjatuhkan sanksi tegas kepada FAM berupa denda sebesar 350 ribu Swiss Franc (sekitar Rp7,3 miliar). Sementara itu, ketujuh pemain yang terlibat juga dihukum larangan aktivitas sepak bola selama 12 bulan dan masing-masing didenda 2.000 Swiss Franc (sekitar Rp41 juta).

FAM telah mengajukan banding atas keputusan tersebut, namun peluang untuk menang tampak semakin kecil. “Tanpa dokumen asli yang membuktikan garis keturunan Malaysia, sangat kecil kemungkinan FIFA akan mengubah keputusan,” tambah Nik Erman.

Kini, dunia sepak bola Asia menanti keputusan akhir FIFA atas kasus ini. Jika banding ditolak, Malaysia akan menanggung beban besar baik dari sisi reputasi maupun masa depan tim nasionalnya. Sementara publik menyoroti pentingnya transparansi dan kehati-hatian dalam proses naturalisasi pemain di masa mendatang.

Exit mobile version