Jakarta, Domainrakyat.com — Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi menunjuk Simon Tahamata terpilih sebagai Kepala Pemandu Bakat Timnas Indonesia. Penunjukan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang PSSI untuk memperkuat fondasi tim nasional, khususnya dalam pengembangan pemain muda di berbagai kelompok usia.
Profil Singkat Simon Tahamata
Simon Tahamata lahir di Vught, Belanda, pada 26 Mei 1956. Ia dikenal sebagai legenda sepak bola Belanda yang memiliki karier cemerlang. Mengawali karier profesional bersama Ajax Amsterdam pada 1976, ia dikenal sebagai pemain sayap yang lincah dan penuh kreativitas. Selain Ajax, ia juga pernah membela Standard Liège dan Feyenoord. Pada level internasional, Tahamata mencatatkan 22 penampilan bersama Timnas Belanda antara 1979 hingga 1986.
Selepas pensiun sebagai pemain, Tahamata terjun ke dunia kepelatihan dan pengembangan pemain muda. Ia pernah menjadi pelatih tim muda di Standard Liège, Germinal Beerschot, dan Ajax Amsterdam. Pada 2009, ia ditunjuk sebagai pelatih teknis untuk tim muda Al-Ahli di Arab Saudi. Pada 2014, ia kembali ke Ajax sebagai pelatih akademi dan mendirikan Simon Tahamata Soccer Academy pada 2015.
Tugas dan Peran di PSSI
Sebagai Kepala Pemandu Bakat, Tahamata bertanggung jawab atas identifikasi dan pengembangan pemain-pemain muda potensial yang dapat memperkuat Timnas Indonesia. Ia akan bekerja sama dengan pelatih dari tim nasional U-17 hingga tim senior untuk menciptakan sistem pencarian bakat yang berkelanjutan dan profesional.
Penunjukan ini dilakukan setelah Tahamata meninggalkan Ajax tahun lalu. Langkah PSSI ini mencerminkan komitmen kuat dalam membangun infrastruktur pembinaan pemain usia muda yang lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang.
Harapan dan Tantangan
Dengan pengalamannya di Eropa dan Timur Tengah, Tahamata diharapkan dapat menghadirkan pendekatan baru dalam pengembangan sepak bola Indonesia. PSSI menargetkan terbentuknya fondasi kuat yang mendukung lahirnya generasi pesepak bola nasional yang berkualitas dan kompetitif secara internasional.
Namun, adaptasi terhadap kondisi lokal menjadi tantangan tersendiri. Perbedaan budaya sepak bola, infrastruktur, serta pola pelatihan antara Indonesia dan Eropa menjadi hal yang perlu disesuaikan. Kerja sama yang erat antara Tahamata, PSSI, dan pelatih lokal menjadi kunci dalam menjawab tantangan tersebut.
Penunjukan Simon Tahamata menjadi Kepala Pemandu Bakat PSSI menjadi langkah strategis dalam upaya membawa sepak bola Indonesia ke level yang lebih tinggi. Dengan pengalaman dan dedikasi yang dimilikinya, publik berharap Tahamata mampu mencetak talenta-talenta baru yang membanggakan Indonesia di kancah dunia.
