Peristiwa

Korbankan Orang Tua dan Integritas demi Teknik Elektro: Kisah Tragis Seorang Mahasiswa

18

Pada tahun 2021, Denis (nama samaran) dan temannya, yang baru saja lulus SMA, menghadapi tantangan besar dalam mengejar impian mereka untuk masuk jurusan Teknik Elektro di universitas ternama melalui jalur UTBK-SNBT.

Teman Denis, yang merasa kurang percaya diri dengan kemampuannya, memutuskan untuk menggunakan jasa joki UTBK-SNBT di Surabaya. Dengan biaya Rp10 juta—Rp5 juta di muka dan Rp5 juta setelah dinyatakan lolos—dia berhasil masuk ke jurusan impiannya.

Namun, keberhasilan itu hanya bertahan sebentar. Setelah beberapa bulan menjalani perkuliahan, dia merasa kewalahan dengan beban akademik yang berat, terutama praktikum yang intensif. Tanpa dukungan dari teman sekelas yang juga sibuk, dan tidak mungkin menggunakan joki untuk tugas-tugas praktikum, dia akhirnya memutuskan untuk drop out (DO).

Denis, yang saat itu masih gap year dan membantu pamannya di bengkel las, mendengar kabar tersebut dari teman-teman SMA mereka. Teman Denis, yang sebelumnya menipu orangtuanya untuk mendapatkan uang guna membayar joki, kini harus menghadapi kenyataan pahit: orangtuanya kecewa, dan dia sendiri kesulitan mencari pekerjaan. Pada tahun 2022, dia menganggur; tahun 2023 hingga 2024 bekerja sebagai kurir, dan pada awal 2025 kembali menganggur.

Dalam sebuah pertemuan di acara pernikahan teman SMA mereka pada awal 2025, Denis bertanya tentang kesibukan temannya. Dengan tawa getir, temannya menjawab, “Sibuk nggak ngapa-ngapain. Jadi sampah keluarga.”elalui UTBK-SNBT 2022, meskipun bukan di jurusan Teknik Elektro. Dia memilih untuk tidak menggunakan jalan pintas, meskipun sempat tergoda. “Aku selalu takut sesuatu yang kumulai dengan cara nggak baik, akan berakhir nggak baik pula,” ujarnya.

Sindikat Joki UTBK-SNBT di Surabaya

Fenomena penggunaan jasa joki UTBK-SNBT bukanlah hal baru. Pada Mei-Juni 2022, Polrestabes Surabaya berhasil membongkar sindikat joki yang telah beroperasi sejak 2020. Delapan orang tersangka ditangkap, dengan usia antara 20 hingga 40 tahun, berasal dari Surabaya, Sulawesi, dan Kalimantan.

Modus operandi mereka beragam, mulai dari penggunaan teknologi seperti kamera hingga menggantikan peserta ujian secara langsung. Ketua Tim Penanggungjawab Panitia SNPMB 2025, Eduart Wolok, menyatakan bahwa jaringan perjokian ini bersifat lintas provinsi, dengan komunikasi yang terbangun dari kota yang berbeda dengan lokasi ujian.

Data Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mencatat bahwa pada UTBK-SNBT 2025, terdapat 50 peserta yang menggunakan jasa joki, mayoritas mengincar jurusan Teknik dan Kedokteran. Sebanyak 10 pelaku penyedia jasa joki telah tertangkap.

Exit mobile version