Palembang,domainrakyat.com-Festival Jazz Internasional “Suara Musi 2024,” yang digadang-gadang sebagai ajang prestisius untuk mengangkat nama Palembang di kancah global, menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Pelaksanaan acara yang semestinya menjadi kebanggaan, justru mencerminkan sejumlah masalah mendasar yang menodai citra festival ini(16/12/2024).
Salah satu sorotan utama adalah ketidaksesuaian tema. Alih-alih menghadirkan pengalaman autentik jazz, festival ini malah diramaikan oleh penampilan yang tidak relevan, seperti tarian ibu-ibu PKK. Walaupun keragaman seni patut dihargai, pengaburan fokus acara justru menciptakan kebingungan di kalangan penonton. Kurasi acara yang lebih ketat sangat diperlukan untuk menjaga identitas festival.
Selain itu, kualitas teknis yang buruk, khususnya pada sound system, memperburuk pengalaman para penikmat musik. Suara yang tidak optimal pada festival musik berskala internasional ini menunjukkan lemahnya perhatian terhadap aspek mendasar yang harusnya menjadi prioritas. Masalah ini diperparah dengan pembatalan mendadak grup dulmuluk jazz tanpa penjelasan jelas, menghilangkan salah satu atraksi unik yang diantisipasi banyak orang.
Potensi besar festival ini untuk menjadi ikon budaya Palembang sebenarnya masih ada. Namun, hal tersebut hanya dapat terwujud jika penyelenggara, terutama Dinas Pariwisata Kota Palembang, melakukan evaluasi menyeluruh. Kurasi acara yang konsisten, peningkatan kualitas teknis, serta perencanaan matang sangat dibutuhkan agar festival ini benar-benar menjadi perhelatan yang membanggakan.
Dengan statusnya sebagai agenda tahunan, Festival Jazz Internasional “Suara Musi” harus berbenah untuk mengembalikan kepercayaan publik dan memenuhi ekspektasi pecinta jazz sejati di masa depan. Tanpa perbaikan signifikan, festival ini hanya akan menjadi acara seremonial yang kehilangan makna.
(Jhon)





