Gaza, Domainrakyat.com — Serangan Israel ke Gaza kembali memakan korban. Serangan Israel tewaskan penjaga akibat serangan udara yang menghantam konvoi truk bantuan kemanusiaan pada Jumat (23/5/2025) di Deir al-Balah. Serangan tersebut terjadi saat para penjaga berusaha mengamankan pengiriman logistik ke gudang organisasi internasional, namun mereka justru diserang oleh kelompok penjarah bersenjata.
Dalam suasana kacau itu, pesawat tempur Israel menggempur lokasi kejadian, menewaskan para penjaga dan melukai sejumlah lainnya. Warga sipil dan tenaga medis pun turut menjadi sasaran. Ambulans yang berusaha mengevakuasi korban dilaporkan tidak luput dari serangan.
Kecaman Internasional dan Tuduhan Pelanggaran HAM
Kantor Media Pemerintah di Gaza mengutuk keras tindakan militer Israel. Mereka menuding serangan tersebut sebagai bagian dari rencana sistematis untuk menciptakan kelaparan dan mengganggu aliran bantuan. Menurut mereka, delapan serangan ditujukan langsung ke lokasi di mana relawan dan pekerja kemanusiaan bertugas semalam.
“Personel yang menjadi target sedang menjalankan tugas kemanusiaan, mengamankan truk berisi obat-obatan dan peralatan medis untuk rumah sakit,” ujar pernyataan resmi kantor media Gaza. Mereka menyebut tindakan Israel sebagai bukti keterlibatan aktif dalam upaya menghalangi bantuan kemanusiaan.
Nahed Shuheiber, Direktur Jenderal Asosiasi Perusahaan Transportasi Gaza, menyatakan bahwa serangan Israel terhadap titik distribusi dan aksi penjarahan sangat tidak bertanggung jawab. Ia menyerukan keterlibatan lembaga internasional untuk menjamin keamanan pengiriman bantuan, serta mencegah eksploitasi di tengah krisis yang melanda wilayah tersebut.
Serangan ke Rumah Sakit dan Krisis Kemanusiaan
Tak hanya konvoi bantuan, militer Israel juga dikabarkan menyerang gudang obat-obatan di Rumah Sakit Al-Awda, Gaza utara. Akibatnya, api melalap persediaan medis penting dan layanan kesehatan di wilayah tersebut terancam lumpuh. Upaya pemadaman pun terhambat karena tembakan yang terus berlanjut dan pembatasan akses oleh pihak militer.
Kelompok Hamas mengutuk keras tindakan tersebut, menyebutnya sebagai bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional dan upaya sistematis untuk menghancurkan infrastruktur kesehatan di Jalur Gaza. Mereka juga menyoroti dukungan politik dan militer dari Amerika Serikat yang membuat Israel semakin brutal.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Palestina, total korban tewas sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 53.800 jiwa, termasuk 16.500 anak-anak. Organisasi Doctors Without Borders menyampaikan kekhawatiran atas kondisi medis yang memburuk, menyebut bahwa pengepungan dan serangan terus-menerus telah melumpuhkan sistem kesehatan di Gaza.
Serangan Israel tewaskan penjaga dan juga mengacaukan upaya penyelamatan dan distribusi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh jutaan warga di wilayah yang terkepung ini.






