DOMAINRAKYAT.com – Proses Seleksi dan Rekrutmen Project Management Officer (PMO) Koperasi Merah Putih oleh Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menuai banyak cibiran dan protes keras dari para pelamar.
Dimulai dari proses awalnya saja yaitu seleksi kelengkapan administrasi sudah carut marut. Proses rekrutmen yang dilakukan oleh konsultan penilaian, Airlangga Center, dinilai “agak laen” dan memicu munculnya dugaan adanya praktik curang.
Diundurnya Pengumuman Seleksi Administrasi yang semula dijadwalkan pada hari Ahad, 14 September 2025, kemudian mengalami penundaan di Senin malam, 15 September 2025 pukul 23.59 WIB, sudah dirasa janggal oleh para pelamar yang sebagian besar merupakan ex-tenaga pendamping program-program pemerintah melalui website resmi Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) melalui tautan sbb https://drive.google.com/file/d/1mGCguXMh6CROUMKyc1Ib6wKf3u2q7mW9/view, faktanya pengumuman nama-nama yang dinyatakan lolos seleksi administrasi justru menimbulkan kebingungan.
Sejumlah pelamar menemukan nama yang sama tercantum berulang kali, sementara banyak pelamar lain yang memiliki pengalaman panjang justru tidak tercantum dan tentu masuk dalam kategori tidak lolos administrasi.
“Ada beberapa nama yang identik sama”, keluh salah satu pelamar di grup WhatsApp.
Pelamar lain menanggapi dengan sindiran pedas, “Jangan-jangan cuman formalitas tapi sudah ada orang-orangnya yang lulus… biasalah orang-orang titipan, ntah mau dibawa kemana Program Koperasi Merah Putih ini kedepannya.”
Selain masalah data yang anomali dan carut marut, dugaan praktik pungutan liar (pungli) juga mencuat. Seorang pelamar melaporkan di akun Instagram pribadi Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, bahwa sebuah oknum yang mengatasnamakan PT Kali Konsultan meminta transfer sebesar Rp1 juta kepada sejumlah pelamar.
Dana tersebut diminta sebagai biaya untuk bimbingan teknis (bimtek) via Zoom, dengan janji kelulusan bagi peserta. Laporan tersebut menyebutkan bahwa materi bimtek diberikan oleh seorang yang disebut sebagai staf ahli menteri, menambah kekhawatiran pelamar.
“Mohon ditindaklanjuti, Pak, karena ini sudah merebak ke mana-mana,” tulis pelamar tersebut seraya menyebut bahwa bukti transfer sudah dipegang oleh para peserta.
Dilain kesempatan, upaya untuk mendapatkan klarifikasi dari pihak penyelenggara juga sudah dilakukan, namun terkendala.
Sejumlah pelamar mengeluhkan bahwa nomor telepon panitia dan admin tidak aktif, begitu pula dengan layanan pengaduan di Kemenkop UKM. Sehingga para pelamar yang merasa dirugikan tidak memperoleh akses langsung ke Kementrian.
Sungguh merupakan hal yang tidak elok, dimasa awal Kepemimpinan Bapak Ferry Juliantono sebagai Menteri Koperasi. Kredibilitas program PMO Koperasi Merah Putih menjadi dipertanyakan, karena proses rekrutmen Pendamping dan Pengawasannya penuh dengan tanda tanya besar dari sisi integritas dan profesional kerjanya.
Terlebih Koperasi Merah Putih adalah salah satu Program andalan dari President Prabowo Subianto yang bertujuan menumbuhkan dan memberdayakan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi di seluruh Indonesia.
Tidak ada kata terlambat untuk membenahi hal ini, semua dimulai, Para pelamar berharap Menteri Ferry Juliantono dapat segera turun tangan untuk menyelesaikan kesemrawutan ini dan memastikan proses seleksi kembali berjalan secara adil dan transparan. (KBR/EMS)*
