Bulukumba – Untuk dorong kolaborasi tangani stunting, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Hj. Fatmawati Rusdi, secara resmi meluncurkan dua program unggulan, yakni Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dan Pemutakhiran Data Anak Stunting (Pedas) Periode 3. Acara berlangsung di halaman Kantor Lurah Ela-Ela, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Rabu 18 Juni 2025.
Peluncuran ditandai dengan pemukulan gong oleh Fatmawati Rusdi, disaksikan langsung oleh Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, Wakil Bupati Andi Edy Manaf, Ketua TP PKK Hj. Andi Herfida Muchtar, Ketua DPRD Umy Asyiatun Khadijah, serta Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Sulsel, Andi Mirna.
Dalam sambutannya, Fatmawati menyampaikan apresiasi atas capaian Bulukumba yang berhasil menurunkan angka stunting sebesar 8,5 persen. Ini adalah kunjungan kerja resmi pertamanya ke Bulukumba pasca dilantik sebagai Wakil Gubernur.
“Saya hadir di sini karena Bulukumba punya prestasi luar biasa dalam penurunan stunting. Ini bentuk nyata kolaborasi dan kerja keras semua pihak,” ungkap Fatmawati.
Ia juga menyoroti pentingnya data akurat sebagai dasar intervensi kebijakan. Menurutnya, Bulukumba telah membuktikan bahwa intervensi yang berbasis data mampu memberikan hasil signifikan.
Kolaborasi Pentahelix untuk Cegah Stunting
Program Genting mendorong keterlibatan pelaku usaha sebagai orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting. Sementara Pedas adalah gerakan pengukuran dan penimbangan serentak di seluruh Posyandu bagi anak usia 0–59 bulan dan ibu hamil. Data dari kegiatan ini menjadi dasar pemberian intervensi berupa makanan tambahan dan susu di 136 rumah gizi di desa dan kelurahan.
Ketua TP PKK Bulukumba, Hj. Andi Herfida Muchtar, menjelaskan bahwa sinergi berbagai pihak sangat penting dalam menyukseskan program ini.
“Kami melibatkan pentahelix, termasuk dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Program Genting adalah wujud kolaborasi yang konkret,” tegasnya.
Komitmen Pemerintah Daerah
Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menyatakan bahwa penurunan angka stunting bukan hal yang sulit jika semua elemen bekerja berdasarkan data dan empati. Ia juga mengajak masyarakat untuk tak ragu membantu sesama sebagai bentuk ibadah dan komitmen sosial.
“Jangan takut miskin karena membantu. Yakinlah, semakin banyak kita memberi, semakin banyak doa baik datang,” ujar Andi Utta, sapaan akrabnya.
Diketahui, prevalensi stunting di Bulukumba turun dari 33,7 persen pada 2023 menjadi 25,3 persen pada 2024. Capaian ini tak lepas dari upaya bersama yang dilakukan secara masif dan terstruktur.
Program dorong kolaborasi tangani stunting yang dijalankan Pemerintah Bulukumba diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Dengan data sebagai pijakan dan kebersamaan sebagai kekuatan, upaya menurunkan stunting dapat terus dilanjutkan secara berkelanjutan.
