Scroll untuk baca artikel
DaerahKaltengNews

Beras Itah, Bukti Kemandirian Petani Kotim

Avatar photo
×

Beras Itah, Bukti Kemandirian Petani Kotim

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Sampit, Domain Rakyat. Com//

Petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan kapasitas dan kemandiriannya dalam mengembangkan sektor pertanian. Kali ini, para petani menghadirkan produk beras lokal dengan merek Beras Itah, yang menjadi simbol inovasi sekaligus penguatan ekonomi berbasis petani.

Produk tersebut diinisiasi oleh Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kotim melalui kolaborasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sinar Harapan Desa Lempuyang bersama Badan Usaha Milik Petani (BUMP) Mina Tani Andalan. Kolaborasi tersebut menandai langkah maju petani dalam mengelola potensi pertanian secara terintegrasi, mulai dari proses produksi hingga pemasaran.

BACA JUGA:  Wakapolres Lubuk Linggau Hadiri Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H/2026 M Tingkat Kota Lubuk Linggau

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Permata Fitri, menyatakan bahwa lahirnya Beras Itah menjadi bukti bahwa petani di Kotim semakin berkembang dan mampu berinovasi dalam membangun usaha berbasis pertanian.

Menurutnya, keunggulan utama dari produk tersebut terletak pada sistem pengelolaan yang dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Pola ini dinilai mampu memperkuat posisi petani tidak hanya sebagai produsen, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang memiliki kendali terhadap nilai ekonomi hasil panennya.

BACA JUGA:  Polantas Banyuwangi Turun ke Jalan, Bagi Takjil Gratis Sambil Edukasi Keselamatan Berkendara

“Ini bukti bahwa petani kita tidak hanya memproduksi, tetapi juga mulai membangun usaha secara mandiri. Potensi daerah dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.

Lebih jauh, inisiatif ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas padi yang dihasilkan petani lokal. Dengan adanya merek sendiri, beras produksi petani Kotim diharapkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Kolaborasi antara kelembagaan petani seperti KTNA, Gapoktan, dan BUMP dinilai menjadi model pengembangan pertanian modern yang menempatkan petani sebagai aktor utama dalam rantai produksi dan distribusi. Jika dikelola secara konsisten, pola tersebut berpotensi memperkuat ekonomi pedesaan sekaligus mendorong kemandirian pangan daerah.

BACA JUGA:  Wali Kota Lubuk Linggau Kunker ke BKN Dalam Rangka Ekspose Manajemen Talenta

Kehadiran Beras Itah pun menjadi penanda bahwa sektor pertanian di Kotim tidak lagi berjalan secara konvensional semata, tetapi mulai bergerak menuju pengelolaan agribisnis yang lebih profesional, mandiri, dan berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!