Banjarmasin, Domainrakyat.com – Kisruh silang sengkarut adanya dugaan kecurangan dalam penjaringan calon rektor UIN Antasari periode 2025 – 2029 makin menggelinding, yang diduga kuat diarsiteki oleh rektor terdahulu demi mempertahankan kepentingan politis dalam ranah akademis.

Konon menurut sumber dalam UIN, bahwa secara personal mantan rektor dengan kelompok kecilnya akan melancarkan serangan balasan, jika pihak-pihak yang terus membongkar kecurangan penjaringan rektor terus berlanjut.

Dan hal ini membuat penasaran publik dan civitas akademika UIN, ada masalah besar apa di balik UIN. Mungkin jika terjadi bongkar-bongkaran dari dua pihak yang bersebarangan akan jelas peta masalahnya, kita tunggu saja perkembangannya.

Namun dari pemberitaan sebelumnya, starting point-nya jelas tentang tindak kecurangan yang tersistimatisasi dengan rapi. Menurut sumber dalam, bahwa intervensi rektor lama itu terlihat sangat kuat dalam pembentukan panitia, yang seharusnya ketua panitia dipegang oleh kepala biro malah dialihkan pada oknum PPK yang jabatannya masih asisten ahli, yang konon ini melanggar aturan.

Termasuk juga adanya penguluran waktu pendaftaran bagi para calon rektor, Ă¿ang ditengarai untuk memberi kesempatan kepada NM yang statusnya belum profesor, sambil berharap SK Profesornya keluar pada last minute waktu pendaftaran, dan itu adĂ lah syarat wajib menurut statuta.

Ternyata, SK Profesor NM tidak keluar pada last minute, dan melewati batas waktu yang ditetapkan, setelah SK keluar melewati batas waktu yang ditentukan, tetap dipaksakan dengan menabrak aturan main yang sudah ditentukan.

Menurut pendapat beberapa civitas akademika UIN Antasari dari beberapa fakultas, contoh pelanggaran di atas jelas mengindikasikan kecurangan yang sangat kasatmata. Dan tentu saja rektor terpilih NM cacat hukum, yang artinya tidak legitimet.

Karena dianggap tidak legitimet, menurut beberapa civitas akademika UIN Antasari, sebaiknya NM lebih baik mengundurkan diri sejak dini sebagai sebagai rektor UIN Antasari, sebelum kasusnya melebar pada pencabutan gelar Profesornya.

Tampaknya kisruh UIN akan terus menggelinding bagai bola salju, sampai saat ini belum ada lembaga internal UIN Antasari yang mencoba memitigasi polemik dan konflik tentang isu kecurangan yang makin memanas.

Sebagian civitas UIN juga mempertanyakan, Senat Universitas sampai saat ini masih dianggap pasif dan dingin, dan belum memberikan reaksi apa-apa.

Beberapa hari ke depan civitas UIN menunggu gebrakan Senat Universitas dalam merespon isu kecurangan ini. Apakah nanti akan membentuk komisi etik yang bersifat Ad hoc dan tim independen untuk menelisik seberapa jauh pelanggaran dan kecurangan yang dilakukan oleh pihak rektor terpilih.

Dalam pernyataannya civitas akademika UIN Atasari juga siap memberikan dukungan, termasuk jika ada intimidasi dari pihak mantan rektor yang mencoba menghalang-halangi penyeldikan kecurangan ini.

Bahkan pernyataan lebih keras lagi dari salah satu civitas UIN, bahwa mereka siap mengerahkan poeple power, menurutnya, “kami siap membanjiri UIN Antasari dengan lautan manusia” jika ini diperlukan dalam rangka mendukung investigasi oleh Senat Universitas, dalam rangka menegakkan marwah UIN Antasari.