MURUNG RAYA, Domain Rakyat. Com//
Bangkai kapal Cinta Budiman yang selama bertahun-tahun terbenam di dasar Sungai Barito kembali terlihat akibat surutnya debit air sungai Barito. Fenomena tersebut menarik perhatian masyarakat Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, sekaligus membuka kembali jejak sejarah panjang yang tersimpan di aliran sungai terbesar di wilayah tersebut.
Kemunculan bangkai kapal itu berkaitan dengan musim kemarau panjang yang menyebabkan permukaan Sungai Barito menyusut. Bagian badan kapal yang sebelumnya berada di bawah permukaan air kini mulai terlihat dan menjadi perhatian warga yang ingin menyaksikan langsung peninggalan sejarah tersebut.
Secara historis, kapal Cinta Budiman disebut berkaitan dengan konflik antara pemerintah kolonial Belanda dan pasukan Tumenggung Surapati di wilayah Sungai Barito. Kapal tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan sejarah perlawanan terhadap kekuasaan kolonial di pedalaman Kalimantan.
Kapal itu diketahui dibangun di galangan kapal Fijenoord, Rotterdam, Belanda, pada September 1845. Dengan menggunakan tenaga mesin berbahan bakar batu bara, kapal tersebut dirancang untuk mendukung aktivitas pelayaran pada masa kolonial.
Keberadaan kapal berbahan bakar batu bara di Sungai Barito menunjukkan pentingnya jalur sungai tersebut pada masa lalu. Barito bukan hanya menjadi jalur transportasi masyarakat, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam aktivitas perdagangan, pemerintahan, dan operasi militer kolonial.
Seiring berjalannya waktu, kisah kapal Cinta Budiman akhirnya tenggelam dan menjadi bagian dari sejarah yang tersimpan di dasar Sungai Barito. Kini, kemunculan kembali bangkai kapal tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat secara langsung salah satu jejak sejarah maritim di pedalaman Kalimantan.
Bagi masyarakat Murung Raya, fenomena tersebut tidak hanya menarik dari sisi sejarah. Kemunculan bangkai kapal juga berpotensi menjadi daya tarik wisata sejarah apabila dikelola secara serius dengan tetap memperhatikan aspek pelestarian dan keselamatan pengunjung.
Pemerintah daerah bersama masyarakat dan pemerhati sejarah dapat menjadikan momentum tersebut sebagai bahan edukasi mengenai sejarah Sungai Barito dan perjuangan masyarakat lokal menghadapi kolonialisme. Dokumentasi dan penelitian juga penting dilakukan agar keberadaan kapal tidak sekadar menjadi tontonan musiman.
Kemunculan Cinta Budiman pada saat debit Sungai Barito surut menjadi pengingat bahwa sungai menyimpan banyak catatan sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Jika ditangani dengan tepat, bangkai kapal tersebut bukan hanya menjadi objek yang muncul ketika kemarau, tetapi dapat dikembangkan sebagai bagian dari narasi wisata sejarah dan identitas budaya Murung Raya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan