BanyuasinDaerah

Kapal Resmi Hanya Sekali Jalan, Warga Nekat Naik Jukung Tanpa Pelampung di Tengah Padatnya Arus Balik Lebaran

Banyuasin,domainrakyat.com– Alih-alih mendapat pelayanan maksimal di masa arus mudik dan balik Lebaran, masyarakat Kabupaten Banyuasin justru dihadapkan pada keterbatasan akses transportasi penyeberangan. Di saat ribuan warga berlomba kembali ke rutinitas usai cuti Lebaran, kapal penyeberangan resmi yang seharusnya menjadi tumpuan justru hanya beroperasi sekali jalan pagi dan sore hari(04/04/2025).

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa kapal hanya berangkat pagi dari Dermaga Sri Menanti dan kembali sore dari Dermaga Karang Baru. Jadwal ini ditetapkan oleh Dinas Perhubungan setempat dan dikonfirmasi langsung oleh Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuasin. Namun, keputusan tersebut menuai keluhan dari warga yang merasa kecewa karena tidak sebanding dengan lonjakan penumpang saat ini.

Skroll untuk Melanjutkan
Advertising

“Saya sudah tunggu sejak siang, tapi kapal baru ada sore. Akhirnya saya ikut jukung saja, padahal saya tahu risikonya,” ujar Fitri, salah satu warga yang ditemui di dermaga Karang Baru.

Kondisi ini mendorong banyak warga untuk mencari alternatif transportasi demi menyeberang. Sayangnya, pilihan itu jatuh pada kapal kayu kecil atau jukung, yang umumnya tidak memiliki standar keselamatan memadai, termasuk pelampung. Padahal, keselamatan penumpang seharusnya menjadi prioritas, terutama dalam kondisi cuaca yang tak menentu.

Beberapa warga bahkan terlihat menyeberang dengan anak-anak tanpa perlindungan apapun. Tidak sedikit dari mereka yang membawa barang dalam jumlah besar, membuat kondisi jukung semakin berisiko.

“Kalau kapal hanya sekali jalan, ya kami terpaksa cari cara sendiri. Mau pulang kerja, masa harus nunggu besok?” keluh Herman, buruh harian yang tinggal di seberang sungai.

Pemerintah daerah pun didesak untuk segera mengevaluasi kebijakan jadwal kapal penyeberangan yang dinilai tidak realistis dengan kebutuhan masyarakat saat Lebaran. Banyak pihak menganggap, ini bukan hanya persoalan pelayanan, tetapi juga keselamatan jiwa.

Aktivis transportasi lokal, Sepriadi Pratama, menilai bahwa pengelolaan transportasi saat Lebaran harus bersifat adaptif. “Jadwal normal tidak bisa dipaksakan pada situasi luar biasa seperti ini. Volume penumpang meningkat tajam, harusnya jadwal kapal pun fleksibel.”

Warga berharap pemerintah setempat tidak tinggal diam. “Tolong diperhatikan, ini bukan hanya soal kapal datang tepat waktu, tapi tentang nyawa orang-orang yang terpaksa nekat demi pulang ke rumah,” ujar Sulastri, ibu rumah tangga yang sehari-hari menyeberang untuk berdagang.

Kondisi ini menjadi pelajaran penting agar ke depan, pengelolaan transportasi publik, khususnya penyeberangan, lebih responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat. Terlebih saat momentum besar seperti Lebaran, di mana arus pergerakan warga melonjak drastis.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil tindakan cepat, mulai dari penyesuaian jadwal kapal hingga penyediaan armada tambahan, demi menjamin keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Jangan sampai keterbatasan pelayanan memaksa warga mempertaruhkan keselamatan hanya demi pulang ke rumah.

 

(Sepri)

Exit mobile version