Banyuasin,domainrakyat.com — Para pengguna jalan nasional Palembang–Betung dibuat penasaran sekaligus geram melihat bangunan misterius di balik pagar seng kawasan Simpang Y, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. Proyek yang disebut menelan anggaran hingga Rp700 juta pada tahun 2022 itu kini dibiarkan mangkrak, memunculkan kesan kumuh dan tidak terurus.
Bangunan tersebut berdiri tepat di pinggir jalan nasional yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan lintas Sumatra. Alih-alih menjadi fasilitas yang bermanfaat, justru hanya menampilkan pemandangan memprihatinkan. Pagar seng sudah banyak yang terlepas, rumput liar menjalar tinggi hingga menutupi sebagian area, menambah kesan seolah-olah tidak ada kepedulian dari pihak berwenang.
“Sangat disayangkan. Ini benar-benar mencoreng citra Kabupaten Banyuasin di mata masyarakat luar yang melintas. Bayangkan, saat masuk Banyuasin langsung disambut bangunan terbengkalai, rumput liar, dan pagar seng yang berantakan. Cobalah tengok taman simpang tiga di Kabupaten Ogan Ilir, Indralaya — rapi dan enak dipandang,” ujar Rudi (45), sopir truk asal Lampung.
Aktivis Banyuasin, Sepriadi Pratama, turut menyoroti kondisi tersebut. “Ini contoh nyata pemborosan anggaran dan lemahnya pengawasan pemerintah daerah. Proyek Rp700 juta ini jelas gagal fungsi. Kalau dibiarkan, bukan hanya merusak pemandangan, tapi juga menambah potensi kerawanan sosial. Saya mendesak Bupati Banyuasin segera turun tangan, panggil pihak-pihak terkait, audit tuntas penggunaan anggaran, dan cari solusi secepatnya,” tegas Sepriadi.
Warga sekitar pun berharap lahan itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum. “Kenapa tidak dibuat taman, seperti taman simpang tiga di Indralaya? Atau dijadikan pos polisi supaya kawasan lebih tertib dan aman. Setiap hari simpang Y ini macet, kalau ditata pasti jauh lebih membantu,” kata Ani (37), warga Talang Kelapa.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah yang selama ini gencar menggaungkan program Banyuasin Bangkit dan pembangunan berkelanjutan. Tanpa tindak lanjut dan solusi konkret, bangunan terbengkalai ini akan terus menjadi simbol kegagalan, pemborosan anggaran, dan memperburuk wajah Banyuasin di mata publik.
(Adi.P)
