PALANGKA RAYA, Domain Rakyat. Com//
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah belum mampu digenjot maksimal. Bukan karena keterbatasan pesawat atau bahan semai, melainkan langit Kalteng belum banyak menyediakan awan potensial yang memenuhi syarat untuk disemai.
Kondisi itu menjadi kendala utama di tengah kebutuhan hujan untuk meredam kekeringan dan menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah wilayah, termasuk Palangka Raya, masih didominasi cuaca cerah sehingga operasi penyemaian belum dapat dilakukan secara optimal.
Koordinator Lapangan OMC Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus operator PT Milan Pillery Bersatu, Abdul Arsyad, menegaskan OMC tidak bisa dipaksakan tanpa dukungan kondisi atmosfer yang tepat. Keberadaan awan menjadi faktor kunci sebelum bahan semai diterbangkan.
“Berdasarkan prediksi BMKG untuk 15 sampai 19 September, masih ada potensi pertumbuhan awan di wilayah Kalimantan Tengah, terutama bagian timur dan utara. Potensinya dapat terjadi pada siang hingga sore hari,” kata Abdul kepada Domain Rakyat. Com Selasa(15/9/2026)
Menurutnya, keberadaan awan saja belum cukup untuk menjalankan penyemaian. Awan harus memiliki karakteristik tertentu dan kondisi yang memungkinkan untuk dioptimalkan agar operasi benar-benar menghasilkan tambahan curah hujan.
“Tujuan OMC ini untuk meningkatkan intensitas curah hujan. Tetapi kami bisa melakukannya kalau ada potensi awan yang dapat dioptimalkan,” ujarnya.
Peluang mulai terlihat di wilayah timur dan utara Kalteng, termasuk Murung Raya. Namun, pertumbuhan awan di daerah tersebut masih terbatas dan cenderung berupa awan rendah sehingga belum memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.
“Di Murung Raya sudah terdapat potensi awan, tetapi masih minim. Belum bisa disemai karena masih awan-awan rendah,” jelas Abdul.
Sementara itu, Palangka Raya masih menghadapi kondisi langit yang relatif cerah. Pesawat OMC belum dapat diarahkan ke wilayah tersebut karena tidak tersedia awan potensial yang dapat menjadi sasaran penyemaian.
Kondisi ini menegaskan bahwa OMC bukan sekadar persoalan mengerahkan pesawat dan menaburkan bahan semai. Operasi sangat bergantung pada momentum atmosfer. Tim OMC dan BMKG harus terus membaca perkembangan awan untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian yang tepat.
Di tengah ancaman karhutla yang masih membayangi Kalteng, setiap peluang hujan menjadi sangat berarti. Karena itu, ketika awan potensial mulai terbentuk, OMC harus bergerak cepat dan presisi agar kesempatan mendatangkan hujan tidak terlewat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan