KOLAKA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi cuaca panas dan kering yang masih berlangsung. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan untuk membuka, membersihkan, atau mengelola lahan.
Imbauan tersebut disampaikan Pemkab Kolaka melalui informasi kepada masyarakat menyusul terjadinya kebakaran di sejumlah titik wilayah Kabupaten Kolaka. Dalam imbauannya, warga juga diminta tidak membuang puntung rokok, korek api, maupun benda lain yang dapat memicu api di kawasan hutan, perkebunan dan lahan terbuka.
Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak meninggalkan api, bara api, maupun aktivitas pembakaran tanpa pengawasan.
Kondisi karhutla di Kolaka mendapat perhatian serius setelah tiga kebakaran terjadi di lokasi berbeda dalam satu hari, Rabu (23/9/2026). Berdasarkan laporan resmi BPBD Kabupaten Kolaka, kebakaran terjadi di KM 18 Kelurahan 19 November, Kecamatan Wundulako; kawasan hutan bakau di depan SMK Pelayaran, Kelurahan Tahoa, Kecamatan Kolaka; serta lahan warga di Dusun 3 Sopura, Desa Sopura, Kecamatan Pomalaa.
Di KM 18, sekitar dua hektare hutan di pinggir jalan poros Kolaka-Kendari terbakar. Sementara di Sopura, api menghanguskan sekitar tiga hektare lahan warga. BPBD menyebut seluruh kejadian tersebut dipicu aktivitas pembakaran sampah secara sembarangan.
Ribuan Pohon Cengkeh Ikut Terancam
Ancaman karhutla tidak hanya berdampak terhadap vegetasi dan lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan.
Informasi yang diterima menyebutkan, kebakaran lahan di sejumlah wilayah Kolaka telah menyebabkan ribuan pohon cengkeh terbakar. Sejumlah petani juga dilaporkan mengalami kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Besarnya kerugian tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memukul perekonomian masyarakat, khususnya petani yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan tanaman perkebunan yang terbakar.
BMKG: September Diprediksi Minim Hujan
Kondisi kering yang berlangsung saat ini juga perlu menjadi perhatian karena data resmi BMKG Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera Kolaka menunjukkan bahwa curah hujan September 2026 di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara diprediksi berada pada kategori rendah, yakni 0–20 milimeter, dengan sifat hujan di bawah normal.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan turunnya hujan untuk menghentikan potensi karhutla.
Untuk prakiraan jangka pendek, informasi BMKG pada titik Pelabuhan Kolaka menunjukkan kondisi berawan tebal pada 24 September, sedangkan prakiraan berikutnya lebih banyak menunjukkan kondisi cerah berawan hingga cerah. Artinya, berdasarkan data yang tersedia, belum terdapat kepastian hujan merata dalam waktu dekat di titik tersebut.
Sementara itu, prediksi BMKG untuk Oktober 2026 menempatkan Kabupaten Kolaka dalam wilayah yang diperkirakan memiliki curah hujan bulanan kategori rendah, yakni 0–100 milimeter. Prediksi tersebut merupakan gambaran akumulasi hujan bulanan, bukan penentuan tanggal pasti turunnya hujan.
Pemkab Minta Warga Tidak Membakar
Pemkab Kolaka melalui informasi resminya juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada menghadapi potensi El Niño dan kekeringan panjang. Pemerintah daerah mengajak masyarakat menghemat penggunaan air, menjaga kesehatan dari debu selama musim kemarau, serta melakukan gotong royong membersihkan saluran air sebagai persiapan menghadapi musim hujan.
Dalam situasi seperti sekarang, pencegahan menjadi langkah penting. Api yang awalnya berasal dari pembakaran sampah atau pembersihan lahan dapat dengan mudah menjalar ketika vegetasi dalam kondisi kering.
Karena itu, masyarakat Kolaka diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tidak meninggalkan bara api, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan