MAKASSAR – Ketersediaan pangan yang memadai belum tentu menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat. Persoalan keragaman konsumsi, pola makan, hingga pemanfaatan pangan menjadi tantangan dalam penanganan Triple Burden of Malnutrition (TBM), khususnya kasus underweight pada balita. Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Forum Diskusi NARASI (Nalar dan Realitas Isu Gizi) yang digelar Divisi Kajian dan Advokasi Forum Mahasiswa Gizi (FORMAZI) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) di Ruang K105 FKM Unhas, Rabu (28/10/2026).
Forum ini mengangkat hasil kajian sementara mengenai keterkaitan akses pangan dengan TBM, dengan fokus pada permasalahan underweight pada balita di Kelurahan Barrang Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar.
Mengusung tema “Food Access, Nutrition Matters: Mengurai Akses Pangan terhadap Triple Burden of Malnutrition (TBM)”, kegiatan yang berlangsung pukul 10.30–13.00 WITA tersebut diikuti 65 peserta.
NARASI merupakan program kerja Divisi Kajian dan Advokasi FORMAZI FKM Unhas periode 2025–2026. Program ini menjadi wadah pengkajian dan pengawalan isu gizi di masyarakat sekaligus sarana penyebarluasan hasil kajian kepada berbagai pemangku kepentingan.
Forum dibuka oleh Prof. dr. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D., dengan Nailah Aulia Putri Arif sebagai moderator. Sejumlah narasumber turut hadir, yakni Faisal, S.Pt., M.Si., Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar; Nurfiah, SKM., M.Kes., dan Jumriati, S.Gz., M.Tr.Adm.Kes., dari Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Makassar; serta Michael Satria, S.Gz., petugas gizi Puskesmas Barrang Lompo.
Dosen S-1 Ilmu Gizi FKM Unhas, Irmayanti, SKM., MPH., juga hadir memberikan tanggapan dan masukan terhadap hasil kajian mahasiswa.
Dalam diskusi, para narasumber menyoroti bahwa persoalan gizi di Barrang Lompo tidak dapat dilihat semata-mata dari ketersediaan dan akses terhadap pangan. Aspek pemanfaatan pangan, keragaman konsumsi, serta perilaku masyarakat dinilai turut menentukan kualitas asupan gizi.
Faisal menjelaskan bahwa ketahanan pangan ditopang oleh tiga pilar utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan.
“Ketahanan pangan memiliki tiga pilar, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan,” ujarnya.
Menurut Faisal, keterbatasan daya beli tidak selalu menjadi satu-satunya penghambat pemenuhan kebutuhan gizi. Masyarakat dapat mempertimbangkan bahan pangan alternatif dengan kandungan gizi yang relatif setara dan harga lebih terjangkau.
“Ketika kita berpikir cerdas, harga itu tidak menjadi masalah, karena ada bahan-bahan yang nilai gizinya hampir sama dengan bahan yang mahal,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa gangguan akses pangan akibat faktor musiman tetap perlu diantisipasi. Perencanaan stok pangan, menurutnya, harus dilakukan sebelum periode ketika akses masyarakat terganggu.
“Musim ini berulang setiap tahun, sehingga kita bisa memperhitungkan di bulan apa akses itu terganggu, dan stok harus disiapkan sebelum itu,” ujarnya.
Ia juga mendorong masyarakat agar lebih cermat dalam memilih bahan pangan, baik yang diperoleh melalui pasar konvensional maupun platform daring.
Sementara itu, perwakilan Dinas Kesehatan Kota Makassar menilai perubahan perilaku konsumsi masyarakat menjadi salah satu tantangan dalam upaya perbaikan gizi. Pengetahuan mengenai makanan sehat belum tentu diikuti penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mengubah perilaku itu sangat susah. Mereka tahu konsumsi ikan itu sehat dan sayur itu sehat, tetapi mereka lebih memilih makanan online,” ujarnya.
Dinas Kesehatan juga mengingatkan bahwa dampak intervensi gizi tidak selalu dapat terlihat dalam waktu singkat. Perbaikan pola konsumsi membutuhkan proses berkelanjutan karena pengaruhnya terhadap kesehatan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Efek makanan yang kita konsumsi itu bukan hari ini kita rasakan, tetapi lima tahun ke depan,” katanya.
Nurfiah menekankan pentingnya mengidentifikasi persoalan secara sistematis sebelum menentukan bentuk intervensi. Menurutnya, kajian perlu dimulai dengan mengidentifikasi masalah, menelusuri penyebab, kemudian memilah faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
“Kita lihat apa masalah yang ada di sana, apa penyebabnya, lalu kita pilah satu per satu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya penguatan kapasitas kader dalam memanfaatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) sebagai salah satu instrumen pendukung pemantauan kesehatan dan gizi anak.
Dari sisi pelayanan kesehatan di lapangan, Michael Satria menggambarkan bahwa persoalan gizi balita di Barrang Lompo tidak selalu berkaitan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga kualitas dan keragamannya.
“Anak-anak yang underweight itu asupan makannya cukup, tetapi gizinya tidak berkualitas karena kurangnya keragaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mayoritas masyarakat setempat bekerja sebagai nelayan. Namun, hasil tangkapan ikan lebih banyak dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dibandingkan dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi keluarga.
“Mereka mencari ikan bukan untuk dimakan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan dasar,” katanya.
Selain itu, Michael menyoroti paparan makanan ultra-proses sejak usia dini. Kandungan garam, gula, dan lemak yang tinggi pada sejumlah produk makanan instan dinilai dapat memengaruhi kebiasaan konsumsi anak.
“Sejak kecil anak-anak sudah terpapar makanan ultra proses yang tinggi garam, gula, dan lemak, sehingga mereka menjadi ketergantungan dengan makanan instan,” tuturnya.
Menanggapi hasil kajian tersebut, Irmayanti mengapresiasi inisiatif mahasiswa FORMAZI dalam mengangkat persoalan gizi di tingkat masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa penyusunan rekomendasi harus didasarkan pada data yang kuat dan mampu menggambarkan kondisi secara menyeluruh.
“Menurut saya, ini sudah inovatif dan secara progresif sudah mengangkat isu ini,” ujarnya.
Ia mendorong tim kajian untuk memulai analisis dari data kuantitatif, baik pada tingkat komunitas, individu, maupun rumah tangga. Pemetaan TBM di tingkat rumah tangga, menurutnya, dapat membantu mengidentifikasi keterkaitan antara kondisi gizi dengan akses pangan dan faktor-faktor lainnya.
“Kita harus berangkat dari angka, di tingkat komunitas, individu, hingga rumah tangga. Coba lihat TBM di tingkat rumah tangga, lalu dikaji dari akses pangan dan faktor lainnya,” katanya.
Selain penguatan data, Irmayanti meminta mahasiswa menggali aspek sosial budaya serta potensi pangan lokal yang tersedia di wilayah penelitian. Menurutnya, persoalan gizi tidak dapat disederhanakan hanya sebagai persoalan ketersediaan bahan pangan.
“Permasalahan ini sangat kompleks. Masalah akses pangan itu sebenarnya bukan masalah pangan, tetapi masalah pemanfaatan, karena ketahanan pangan itu mencakup akses, keterjangkauan, ketersediaan, dan pemanfaatan,” tegasnya.
Berdasarkan diskusi tersebut, persoalan TBM di Barrang Lompo memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Ketersediaan dan keterjangkauan pangan perlu berjalan seiring dengan pemanfaatan pangan yang tepat, keragaman konsumsi, serta perubahan perilaku masyarakat.
Kebiasaan memilih makanan instan karena alasan kepraktisan, kecenderungan menjual hasil tangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, serta pola pikir yang lebih mengutamakan rasa kenyang daripada kualitas gizi menjadi sejumlah persoalan yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Faktor lain, seperti infeksi berulang dan pemahaman mengenai pola asuh, juga dinilai berpengaruh terhadap kondisi gizi balita.
Di sisi lain, gangguan akses pangan musiman akibat gelombang tinggi serta ketersediaan bahan pangan segar tetap menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan dalam penyusunan rekomendasi.
Forum diskusi ditutup oleh moderator dan dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta.
Melalui Forum Diskusi NARASI, FORMAZI FKM Unhas berharap hasil kajian sementara tersebut dapat disempurnakan berdasarkan masukan para narasumber. Hasil kajian selanjutnya diharapkan menjadi landasan penyusunan rekomendasi yang tepat sasaran dalam upaya penanganan TBM, khususnya kasus underweight pada balita di Kelurahan Barrang Lompo.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.