Bantaeng – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Keamanan Pangan (KKN-T KP) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 bekerja sama dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI melaksanakan rangkaian kegiatan penguatan keamanan pangan sekolah di Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pembentukan Kader Keamanan Pangan Sekolah di Dusun Labbo dan Dusun Pattiro serta penyusunan buku saku “Implementasi Keamanan Pangan Sekolah” sebagai media edukasi dan panduan bagi kader maupun warga sekolah.

Kegiatan pembentukan Kader Keamanan Pangan Sekolah dilaksanakan sebagai bagian dari implementasi Program Desa Pangan Aman. Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk agen edukasi di lingkungan sekolah yang mampu membantu menyebarluaskan pengetahuan serta membangun kebiasaan memilih pangan yang aman di kalangan peserta didik.

Pembentukan kader melibatkan guru-guru di Desa Labbo yang dipersiapkan sebagai Kader Keamanan Pangan Sekolah. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai 5 Kunci Keamanan Pangan Sekolah, yang mencakup pengenalan pangan yang aman, cara membeli pangan yang aman, membaca label pangan, menjaga kebersihan, serta mekanisme pencatatan dan pelaporan apabila ditemukan permasalahan keamanan pangan.

Selain penyampaian materi, kegiatan juga dilengkapi dengan diskusi mengenai tindak lanjut dan komitmen kader, khususnya dalam melaksanakan sosialisasi serta memfasilitasi penerapan keamanan pangan di lingkungan sekolah.

Strategi penyampaian edukasi kepada siswa juga menjadi perhatian agar informasi mengenai keamanan pangan dapat dikemas secara menarik, interaktif, dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bentuk penguatan terhadap kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T KP Unhas juga menyusun buku saku “Implementasi Keamanan Pangan Sekolah”. Buku saku ini disusun sebagai media pendamping yang dapat membantu kader memahami dan menerapkan prinsip-prinsip keamanan pangan di lingkungan sekolah.

Penyusunan buku saku tersebut memuat informasi praktis mengenai penerapan keamanan pangan sekolah. Dengan demikian, materi yang diperoleh kader tidak berhenti pada kegiatan pembekalan, tetapi dapat digunakan kembali sebagai bahan edukasi dan panduan dalam melaksanakan kegiatan keamanan pangan secara berkelanjutan.

Penanggung jawab kegiatan, Asrina Ashrie, menyampaikan bahwa pembentukan kader dan penyusunan buku saku merupakan dua bagian yang saling melengkapi dalam membangun budaya keamanan pangan di Desa Labbo.

“Pembentukan kader menjadi langkah awal untuk menghadirkan agen edukasi keamanan pangan di lingkungan sekolah, sedangkan buku saku diharapkan dapat menjadi media pendukung agar kader memiliki panduan yang praktis dalam menyampaikan dan menerapkan materi keamanan pangan. Kami berharap keduanya dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi sekolah dan masyarakat Desa Labbo.”

Pembentukan kader juga diharapkan mampu mendorong guru untuk berperan sebagai agen edukasi yang secara berkelanjutan menanamkan perilaku memilih pangan yang aman kepada peserta didik.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan terbebas dari pangan yang berisiko bagi kesehatan.

Dengan adanya Kader Keamanan Pangan Sekolah di Dusun Labbo dan Dusun Pattiro serta tersedianya buku saku sebagai media pendukung, rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun ekosistem keamanan pangan sekolah yang berkelanjutan di Desa Labbo.