Banjarmasin, Domainrakyat.com – Persoalan jabatan rektor di UIN Antasari masih terus bergulir. Desakan mundur bukan hanya dari beberapa Guru Besar baik yang aktif maupun yang tidak aktif makin kuat, bahkan beberapa komunitas pensiunan PNS dosen dan karyawan yang membaca berita dalam sepekan terakhir juga makin santer, para sivitas akademika stakeholders itu berharap kisruh tentang permasalahan kemelut Rektor bisa diselesaikan dengan arif dan bijaksana dengan jalan NM selaku rektor yang saat ini menjabat secara sukarela mengundurkan diri.
Mereka berpendapat, dengan mundurnya sang rektor, persoalan akan langsung selesai, karena keterpilihannya tidak lazim dan memiliki cacat hukum.
“UIN Antasari akan makin terpuruk nantinya dalam konflik berkepanjanganĀ dan makin besar lagi, kalau masalah itu tidak segera diakhiri. Dengan cara rektor menyadari kesalahannya,Ā Ā baiknya mundur dari jabatan rektor dengan sukarela,” pungkas ASN Dosen yang namanya tidak ingin dipublikasikan.
Forum Independen dan Peduli UIN Antasari rencana akan mengundang dewan guru besar dan senat UIN Antasari berdialog dengan berbagai elemen kampus dan mengadakan Forum Groups DiscusionĀ Ā sebagaimana beberapa informasi dari sebagian dosen dan guru besar UIN Antasari yang didapati wartawan tim koran Domain.
Menurut pemberitaan beberapa media online maupun cetak, mereka juga akan berkirim surat ke Itjen dan Kementerian Agama RI pusat untuk turut serta menyelesaikan masalah ini dengan cara menata ulang dan evaluasi menyeluruh terhadap UIN Antasari Banjarmasin ke depannya.
Sementara beberapa sumber eksternal para guru besar danĀ pensiunan ASN serta dosen pensiunan UIN Antasari Banjarmasin berharap UIN Antasari jangan sampai rusak moral dan akhlak hanya gara-gara mempertahankan jabatan, atau berebut jabatan.
“orang-orang yang memimpin UIN itu-itu aja, seperti mantan rektor mau-maunya jadi direktur Pascasarjana, berarti menurun baik pendapat maupun pendapatan. Sikap mental seperti ini tidak mencerminkan sikap pemimpin yang memberi kesempatan kepada orang lain dan hanya gegara hendak menjabat terus-terusan. Itu artinya tidak ada kemajuan, kalau terlibat mengatur jabatan orang lain,apalagi rektor yang diatur oleh direktur pasca, maka rektor lebih baik mundur, kalau salah langkah bisa merugikan diri sendiri, dan merugikan orang lain, apalagi diatur bawahan,” ujar An Nor, salah satu pensiunan dosen UIN Antasari.
“Pejabat di UIN bisa jadi tidak mencerminkan sesuai motto dan Islam UIN kalau sampai, berebutan dan mengambil hak jabatan orang lain secara tidak benar, ini yang aku bingung. Kadang pemimpin institusi Islam itu tidak sesuai antara ucapan dengan perbuatan, karenanya kalau bermasalah lebih baik mundur, tidak perlu ngotot mempertahankan sesuatu yang salah,” ujar Fahri, mantan dosen UIN Antasari lainnya.
Seorang guru besar yang sudah pensiunĀ menyayangkan kasus yang menimpa rektor UIN Antasari Banjarmasin sebagai kecelakaan jabatan.
“Jadi untuk mencari posisi aman, lebih baik mundur saja, tidak merembet ke jabatan guru besarnya, ketika tim domain ingin menulis nama beliau, beliau mewanti-wanti jangan ditulislah karena tidak enak, dan sayaĀ berteman akrab dengan orang tua rektor itu, semasa beliau di IAIN dulu,” ungkapnya.
Beberapa rangkuman akhir dari tim Domainrakyat.com yang mengadakan wawancaraĀ puluhan lebih dosen dan pensiunan yang dimintai pendapatnya, berharap agar rektor berikhlaskan diri, dan jangan ngotot mempertahankan jabatannya, karena lambat atau cepat pasti akan berujung pemunduran secara paksa. Menurutnya sepanjang sejarah dari sejak berdirinya kampus itu, dan masih bernama Universitas Islam Kalimantan, lalu berubah menjadi IAIN, kemudian berubah lagi menjadi Universitas Islam Negeri Antasari di tahun 2017, belum ada rektor yang bermasalah dalam pemilihan dan dalam prosedur tata kelola kampus, baru kali ini timbul persoalan seperti itu.



Tinggalkan Balasan