BANYUWANGI, DOMAINRAKYAT.COM – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan arah pembangunan daerah yang tidak semata mengejar kemegahan fisik. Melalui kerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, Pemkab Banyuwangi berupaya memastikan pembangunan infrastruktur, ruang publik, tata ruang hingga kawasan pariwisata memiliki kualitas, keberlanjutan, sekaligus tetap mencerminkan karakter lokal.
Komitmen itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Sinergi Pembangunan dan Pengembangan Potensi Daerah antara Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Ketua IAI Jawa Timur Fafan Tri Afandy di Banyuwangi, (13/9/2026).
Kerja sama tersebut menjadi penting karena Wajah sebuah daerah tidak hanya dibentuk oleh jalan, gedung dan fasilitas publik, tetapi juga oleh bagaimana ruang-ruang tersebut dirancang untuk manusia dan lingkungan. Karena itu, keterlibatan tenaga profesional arsitektur didorong semakin kuat agar pembangunan tidak kehilangan arah, fungsi, maupun identitas Banyuwangi.
Bupati Ipuk secara tegas mengingatkan bahwa arsitektur bukan sekadar persoalan membuat bangunan terlihat megah. Menurutnya, Pembangunan harus berpihak kepada masyarakat, memberikan kenyamanan, menjaga lingkungan, serta mampu menghadirkan ruang yang memiliki manfaat jangka panjang.
“Arsitektur tidak hanya soal kemegahan, tetapi harus berpihak kepada masyarakat. Dengan kolaborasi bersama IAI, kami ingin terus memastikan ruang publik, taman kota, hingga tata ruang wilayah melibatkan arsitek agar pembangunan lebih nyaman, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat,” ungkap Ipuk.
Pemkab Banyuwangi menyebut konsep pembangunan hijau telah dijalankan selama lebih dari 14 tahun. Sejumlah bangunan publik juga telah melibatkan arsitek. Namun tantangannya kini bukan sekadar mempertahankan apa yang sudah baik, melainkan memastikan standar kualitas pembangunan terus meningkat tanpa mengorbankan jati diri daerah.
Ketua IAI Jawa Timur Fafan Tri Afandy menilai Banyuwangi memiliki perkembangan arsitektur yang cukup pesat. Bahkan, menurutnya, Banyuwangi telah menjadi salah satu barometer perkembangan arsitektur di Indonesia, khususnya kawasan timur.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Salah satu pencapaian yang menjadi sorotan adalah keberhasilan Bandara Internasional Banyuwangi meraih Aga Khan Award for Architecture, sebuah penghargaan bergengsi di bidang arsitektur. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan yang mengangkat identitas lokal sekaligus memperhatikan prinsip keberlanjutan mampu mendapatkan perhatian hingga tingkat internasional.
Di sisi lain,Penguatan pembangunan juga membutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Fafan menyebut jumlah arsitek teregistrasi di Banyuwangi kini mencapai sekitar 10–16 orang, didukung 33 konsultan perencana serta sekitar 80 sarjana arsitektur yang kembali ke daerah.
Angka tersebut menjadi modal sekaligus tantangan. Jangan sampai potensi tenaga profesional yang tersedia hanya menjadi angka statistik, sementara pembangunan daerah berjalan tanpa optimalisasi keahlian mereka. Kolaborasi Pemkab dan IAI diharapkan mampu membuka ruang lebih besar bagi arsitek lokal untuk berpraktik, berkolaborasi, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap wajah Banyuwangi.
IAI Jatim juga telah mendorong terbentuknya Komisariat Wilayah IAI Banyuwangi sebagai wadah resmi para arsitek lokal. Selain meningkatkan kapasitas profesional, forum tersebut diharapkan menjadi Ruang pertukaran gagasan agar pembangunan Banyuwangi tidak hanya berbicara mengenai proyek fisik, tetapi juga kualitas ruang hidup masyarakat.
Rangkaian kolaborasi itu turut diwujudkan melalui kegiatan Gesah dan Pameran Arsitektur yang berlangsung 11–13 September 2026. Forum tersebut menjadi ruang diskusi publik untuk mempertemukan gagasan arsitektur, pembangunan daerah dan kepentingan masyarakat.
Kini publik tentu menunggu bukti konkret dari MoU tersebut. Sebab, Kerja sama yang baik tidak cukup berhenti pada penandatanganan dokumen, seremoni, atau pernyataan komitmen. Ukuran keberhasilannya justru akan terlihat dari perubahan nyata : Apakah ruang publik semakin nyaman, pembangunan semakin berkualitas, lingkungan semakin terjaga, dan identitas Banyuwangi semakin kuat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan