Ngawi, Domainrakyat.com – Menjelang masa panen padi, sejumlah petani di wilayah Jawa Timur, tak terkecuali di Kabupaten Ngawi  masih melestarikan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan nama Methil. Tradisi ini dilaksanakan sebagai penanda dimulainya panen sekaligus ungkapan rasa syukur kapada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang melimpah.

Prosesi Methil biasanya dilakukan di area persawahan  pada pagi hari sebelum padi dipanen secara menyeluruh. Dalam tradisi tersebut, petani atau sesepuh desa akan memotong beberapa batang padi yang telah menguning sebagai simbol dimulainya panen. Masyarakat jawa meyakini bahwa ritual ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan dan harapan agar hasil panen bisa membawa keberkahan bagi keluarga petani.

Pinisepuh atau sesepuh Desa Ringinanom, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi Mbah Supo Atmojo menjelaskan, bahwa istilah “Mboyong Dewi Sri saking sabin ingkang benter, tumuju gedung palereman” yang artinya “Membawa Dewi Sri dari lokasi sawah yang panas menuju rumah yang teduh” dalam tradisi methil bukanlah memboyong (membawa) sosok Dewi Sri secara harfiah, melainkan beberapa tangkai padi yang diikat dan diperlakukan sebagai simbol kehadiran Dewi Sri. Lalu ikatan tangkai padi yang berasal dari sawah tersebut dibawa pulang ke rumah sebagai lambang bahwa rezeki, kemakmuran, dan berkah hasil panen ikut dibawa ulang.

Upacara tradisi methil
Ilustrasi upacara tradisi methil (Foto: Agus/Agung)

Selain prosesi pemotongan padi atau methil yang berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026 lau, sebagian masyarakat Desa Ringinanom juga menggelar doa bersama dan kenduri sederhana ditengah sawah. Berbagai hidangan tradisional disediakan sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan selama musim tanam. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar warga melalui semangat gotong royong dan kebersamaan.

Dilokasi pelaksanaan tradisi methil, Kepala Desa Ringinanom, Sukardi menerangkan jika tradisi methil ini sudah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman leluhur dan masih dipertahankan hingga kini meskipun praktik pertanian sudah semakin modern. “Di tengah perkembangan teknologi pertanian, keberadaan tradisi methil menjadi pengingat bahwa pertanian tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyimpan nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan karifan lokal yang patut dijaga,” terangnya.

“Melalui Methil kami mengucapkan syukur atas panen yang baik dan memohon keberkahan untuk musim tanam berikutnya,” ujar salah seorang petani yang masih rutin menjalankan tradisi tersebut setiap menjelang panen raya. (Aay)