BANYUASIN – Kemacetan parah kembali terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) ruas Palembang–Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu (1/8/2026). Kepadatan kendaraan terjadi di sekitar Kilometer 17 hingga Kilometer 18 dan memicu keluhan dari masyarakat serta pengendara yang melintas.
Antrean kendaraan yang mengular dinilai mengganggu mobilitas masyarakat, sekaligus berpotensi menghambat distribusi barang dan aktivitas perekonomian yang mengandalkan jalur utama tersebut.
Salah satu faktor yang memengaruhi kepadatan arus lalu lintas adalah pekerjaan pengecoran jalan yang dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan. Pekerjaan tersebut membuat arus kendaraan harus diatur dengan sistem buka-tutup sehingga berdampak pada kelancaran lalu lintas.
Kondisi tersebut kembali memunculkan sorotan mengenai kesiapan rekayasa lalu lintas dan penyediaan jalur alternatif selama pekerjaan infrastruktur berlangsung di ruas jalan dengan volume kendaraan tinggi.
Pemerintah Kabupaten Banyuasin melalui Dinas Perhubungan sebelumnya telah mengirimkan surat kepada BBPJN Sumatera Selatan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, dan PT Hutama Karya. Surat yang dilayangkan sejak pertengahan Juli 2026 itu berisi permohonan agar akses fungsional Tol Palembang–Betung dapat dibuka sementara sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kepadatan di jalur nasional.
“Kami sudah menyurati pihak terkait untuk meminta akses tol dibuka sementara,” ujar perwakilan Dinas Perhubungan Banyuasin.
Permintaan tersebut dinilai menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi beban kendaraan di Jalinsum Palembang–Betung, terutama selama pekerjaan jalan masih berlangsung.
Masyarakat berharap koordinasi antarinstansi dapat segera menghasilkan langkah konkret. Sebab, ketika jalur utama mengalami penyempitan atau hambatan akibat pekerjaan konstruksi, diperlukan rekayasa lalu lintas yang efektif serta jalur alternatif untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat.
Sementara itu, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Banyuasin, AKP Sayyid Malik, mengatakan pihaknya terus melakukan pengaturan, pemantauan, dan rekayasa arus lalu lintas di sejumlah titik yang berpotensi mengalami kepadatan.
“Satlantas Polres Banyuasin terus melakukan pengaturan, pemantauan, dan rekayasa arus lalu lintas di sejumlah titik yang berpotensi mengalami kepadatan. Personel kami disiagakan untuk memastikan arus lalu lintas tetap berjalan serta memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat pengguna jalan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para pengendara untuk mematuhi arahan petugas di lapangan, mengutamakan keselamatan, serta bersabar ketika terjadi antrean akibat kondisi jalan maupun pekerjaan konstruksi yang masih berlangsung.
Menurutnya, kepadatan arus lalu lintas dipengaruhi pekerjaan pengecoran beton jalan yang mengharuskan diterapkannya sistem buka-tutup. Satlantas Polres Banyuasin bersama Polsek Pangkalan Balai, Polsek Talang Kelapa, dan instansi terkait terus melakukan pengaturan serta penguraian arus lalu lintas.
“Kami mengimbau pengguna jalan untuk mengikuti petunjuk petugas di lapangan, menjaga jarak aman, tidak saling mendahului, dan apabila memungkinkan memanfaatkan jalur alternatif yang telah disiapkan,” katanya.
Terkait pelaksanaan pekerjaan jalan dan aspek teknis proyek, lanjutnya, hal tersebut merupakan kewenangan instansi yang menangani pekerjaan tersebut. Sementara fokus kepolisian adalah memastikan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran arus lalu lintas selama pekerjaan berlangsung.
“Terkait pelaksanaan pekerjaan jalan maupun aspek teknis proyek merupakan kewenangan instansi yang menangani pekerjaan tersebut. Fokus Satlantas adalah memastikan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran arus lalu lintas selama pekerjaan berlangsung,” jelasnya.
Di tengah kemacetan yang kembali terjadi, masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah nyata. Pembukaan akses tol secara sementara dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kepadatan selama pekerjaan jalan nasional berlangsung, tentunya dengan mempertimbangkan aspek teknis dan keselamatan.
Kemacetan yang terjadi secara berulang dinilai tidak hanya menyangkut kenyamanan perjalanan, tetapi juga berdampak pada waktu tempuh, keselamatan pengguna jalan, serta kelancaran distribusi barang dan aktivitas ekonomi.
Masyarakat kini menunggu tindak lanjut konkret dari instansi terkait agar pekerjaan infrastruktur tetap berjalan, namun tidak mengorbankan kelancaran mobilitas pengguna Jalinsum Palembang–Betung.



Tinggalkan Balasan