Kendari, Domainrakyat.com – Kendari kembali dihadapkan pada persoalan serius terkait kelangkaan gas LPG subsidi 3 kilogram. Di sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara, harga gas melon dilaporkan melonjak drastis hingga mencapai Rp50 ribu sampai Rp70 ribu per tabung. Kondisi ini memicu keresahan masyarakat, terutama kalangan rumah tangga kecil dan pelaku usaha mikro yang sangat bergantung pada gas bersubsidi tersebut.

Menanggapi situasi itu, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulawesi Tenggara langsung bergerak melakukan penyelidikan mendalam. Fokus utama penyelidikan yakni mengungkap penyebab kelangkaan sekaligus dugaan permainan distribusi yang memicu lonjakan harga di lapangan.

Direktur Reskrimsus Polda Sultra, Dodi Ruyatman, menegaskan pihaknya telah menurunkan personel untuk memeriksa seluruh rantai distribusi gas LPG subsidi, mulai dari agen hingga pangkalan resmi.

“Personel kami saat ini sudah bergerak di lapangan untuk mengecek langsung ketersediaan stok dan menyelidiki stabilitas harga gas LPG 3 kg. Kami ingin memastikan apa pemicu utama di balik lonjakan harga yang dikeluhkan masyarakat,” ujar Dodi Ruyatman di Kendari, Senin.

Lonjakan harga tersebut dinilai sangat membebani masyarakat. Pasalnya, Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG subsidi sebenarnya jauh berada di bawah harga yang kini beredar di pasaran. Situasi ini memunculkan dugaan adanya oknum yang sengaja memanfaatkan kelangkaan demi meraup keuntungan besar.

Polda Sultra pun memperingatkan seluruh agen maupun pangkalan agar tidak bermain-main dalam distribusi energi bersubsidi. Jika ditemukan adanya praktik penimbunan, manipulasi distribusi, hingga pengoplosan, aparat memastikan akan mengambil tindakan hukum tegas.

“Jika dalam penyelidikan ini ditemukan adanya praktik penimbunan, pengoplosan, atau manipulasi jalur distribusi, kami akan langsung menindak tegas sesuai regulasi hukum niaga yang berlaku,” tegas Dodi.

Di tengah kepanikan masyarakat akibat sulitnya memperoleh gas melon, polisi juga meminta warga tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Sebab, tindakan tersebut justru berpotensi memperparah kelangkaan di tingkat pengecer.

Penyelidikan ini diharapkan mampu membongkar penyebab utama krisis distribusi LPG subsidi di Sulawesi Tenggara sekaligus memberi efek jera kepada pihak-pihak yang mencoba memainkan kebutuhan pokok masyarakat demi keuntungan pribadi.