BANYUWANGI, DOMAINRAKYAT.COM —
Sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali mencuri perhatian dunia usaha. Sebanyak 17 delegasi Nestlé Asia Pasifik datang langsung ke Banyuwangi untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir yang dinilai mampu melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
Kunjungan tersebut berlangsung di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Selasa (18/8/2026). Delegasi dipimpin Sustainability Delivery Manager Nestlé Zone Asia Oceania and Africa, Katarzyna Grzybowska, bersama perwakilan Nestlé dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
“Kami ingin belajar bagaimana Banyuwangi membangun sistem pengelolaan sampah, khususnya melalui program Banyuwangi Hijau yang menerapkan konsep pengelolaan sampah secara sirkular,” kata KatarzynaKatarzyna (20/08).
Menurutnya, Banyuwangi dipilih karena Dinilai memiliki sistem yang berjalan secara terintegrasi. Pengelolaan tidak berhenti pada pengumpulan sampah, tetapi dilanjutkan dengan pemilahan, pengolahan, hingga daur ulang sehingga sampah memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Nestlé juga melihat model Banyuwangi memiliki relevansi dengan penguatan Extended Producer Responsibility (EPR). Perusahaan menyatakan ingin mengambil tanggung jawab lebih besar terhadap sampah yang berasal dari kemasan produknya dengan mencari praktik terbaik yang dapat dikembangkan sebagai blueprint di berbagai wilayah Asia Tenggara.
“Kami berkomitmen ikut bertanggung jawab mengurus sampah dari kemasan produk yang kami jual. Karena itu, kami terus mencari best practices pengelolaan sampah dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Dalam kunjungan lapangan, para delegasi mendatangi TPS 3R Desa Balak, Kecamatan Songgon. Mereka melihat langsung rantai pengelolaan persampahan, mulai dari pengumpulan sampah rumah tangga, pengangkutan, pemilahan, pengolahan di TPS/TPS3R, hingga penanganan residu menuju TPA. Diskusi juga dilakukan bersama sejumlah OPD Pemkab Banyuwangi.
Model tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang Banyuwangi membangun sistem persampahan sirkular sejak 2017 melalui Project STOP, yang ditandai pembangunan TPS3R Tembokrejo, Muncar. Program kemudian berkembang melalui Banyuwangi Hijau Fase 1 dengan pembangunan TPS3R Balak, dilanjutkan Fase 2 di Karetan, Purwoharjo, serta Fase 3 di Kertosari.
Pengembangan tersebut mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Norwegia, Austria, Clean Rivers UEA, hingga Kementerian Pekerjaan Umum RI yang mendukung pembangunan TPS3R Wongsorejo. Rangkaian program itu memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan keberlanjutan program.
Kunjungan Nestlé Asia Pasifik menjadi sinyal bahwa model Banyuwangi mulai dipandang bukan sekadar sebagai program daerah, melainkan sebagai praktik yang berpotensi direplikasi di kawasan Asia Tenggara. Dari Banyuwangi, sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber nilai ekonomi dan bagian dari tanggung jawab bersama.




Tinggalkan Balasan