Makassar, 12 September 2026 – Hasanuddin Global Student Conference (HGSC) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin bersama Prisma FISIP Unhas sebagai panitia pelaksana berlangsung selama dua hari, 11–12 September 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Transforming Environmetal Agendas: A Socio-Political Approach to Global Climate Justice” dengan rangkaian pembahasan mengenai climate justice, tata kelola lingkungan, kebijakan karbon, hingga ketimpangan sosial.

hasanuddin global student conference
Hasanuddin Global Student Conference 2026 Bahas Climate Justice dan Ketimpangan Sosial. (Dok: Ist)

Pada hari pertama, 11 September 2026, rangkaian Hasanuddin Global Student Conference diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta penayangan cultural video.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan welcoming speech yang disampaikan Head of Committee HGSC 2026, Siti Nur Fadilah. Setelah itu, kegiatan diisi sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., serta sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.B.M.Mf., Subsp. Ortognat.D.

Seluruh rangkaian sesi tersebut dipandu moderator Salfadillah Az-Zahrah. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi invited speaker yang menghadirkan Muhammad Al Hilal Gibraltar dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Dalam sesi tersebut, Muhammad Al Hilal Gibraltar menyampaikan materi berjudul “Political Ethics and Climate Justice: Strengthening Democratic Accountability in Environmental Governance”. Pemaparannya membahas climate justice sebagai salah satu aspek penting dalam menghadapi tantangan politik sekaligus memperkuat akuntabilitas dalam tata kelola lingkungan.

Setelah sesi diskusi selesai, kegiatan berlanjut ke panel session yang terbagi dalam empat panel.

Tidak hanya membahas persoalan lingkungan, HGSC 2026 juga menghadirkan pembahasan mengenai isu sosial. Materi tersebut disampaikan invited speaker Afifah Araminta Wardiyah dengan judul “Fertility Postponement and Social Inequalities”.

Materi tersebut membahas berbagai faktor yang menyebabkan penundaan kesuburan serta hubungannya dengan ketimpangan sosial. Pemaparan itu sekaligus menjadi sesi penutup rangkaian kegiatan pada hari pertama.

Memasuki hari kedua, 12 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan Nurul Habib Al Mukarramah dari Universitas Hasanuddin melalui materi berjudul “Can Justice Be Served? A Philosophical Legal Evaluation on Indonesia Carbon Pricing Policy”.

Dalam pemaparannya, Nurul Habib Al Mukarramah menyimpulkan bahwa kebijakan harga karbon di Indonesia belum sepenuhnya berkeadilan. Karena itu, kebijakan tersebut dinilai perlu direkonstruksi melalui tata kelola yang lebih transparan dan inklusif.

Setelah pemaparan tersebut, para presenter kembali mengikuti panel session yang terbagi dalam empat panel.

Rangkaian konferensi kemudian ditutup dengan pemaparan Adzaniya Magfira Sausan, S.Si. melalui artikel berjudul “From ‘Don’t Litter’ to ‘Why Floods Happen’: A Systematic Review of ASEAN Environmental Education for Localized Indonesian Climate Justice Framework”.

Dalam artikelnya, Adzaniya Magfira Sausan, S.Si. menegaskan pentingnya mengarahkan pendidikan lingkungan menjadi bentuk pemberdayaan sipil aktif, bukan hanya sebatas kepatuhan moral.

Pemaparan tersebut menjadi sesi terakhir dalam rangkaian Hasanuddin Global Student Conference 2026. Melalui seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari, HGSC 2026 menjadi ruang bagi peserta untuk bertukar gagasan dan memperluas wawasan terkait isu lingkungan, keadilan iklim, serta berbagai persoalan sosial yang berkaitan dengan kebijakan dan kehidupan masyarakat.