Sinjai – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Desa Lamatti Riaja melaksanakan kegiatan “Tudang Sipulung: Pemberdayaan Sanggar Tani sebagai Wadah Diskusi dan Penguatan Kapasitas Petani Desa Lamatti Riaja” pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Sanggar Tani Desa Lamatti Riaja, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kapasitas petani dan pemanfaatan Sanggar Tani sebagai wadah komunikasi serta diskusi masyarakat.

Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Kecamatan Bulupoddo, Pemerintah Desa Lamatti Riaja, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bulupoddo beserta jajaran penyuluh pertanian, para petani, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta mahasiswa KKNT Gelombang 116 Unhas.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, penyuluh, dan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sektor pertanian di tingkat desa.

Konsep Tudang Sipulung, yang dalam budaya masyarakat Bugis dimaknai sebagai duduk bersama untuk bermusyawarah, menjadi dasar pelaksanaan kegiatan.

Konsep tersebut digunakan untuk membangun ruang dialog yang memungkinkan petani menyampaikan pengalaman, permasalahan, serta kebutuhan mereka secara langsung. Dengan pendekatan ini, petani tidak hanya diposisikan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pihak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman penting dalam menentukan solusi terhadap persoalan pertanian di wilayahnya.

Pemberdayaan Sanggar Tani menjadi bagian penting karena keberadaan wadah tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang berkelanjutan bagi petani untuk bertukar informasi dan pengalaman.

Sanggar Tani dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kegiatan pertanian, mulai dari kondisi cuaca, pola tanam, hama dan penyakit tanaman, hingga kebutuhan akan informasi dan inovasi pertanian.

Dalam kegiatan ini, pembahasan mengenai permasalahan pertanian dan solusi berkelanjutan menjadi salah satu fokus utama. Berbagai tantangan yang dihadapi petani perlu direspons melalui pengetahuan, kerja sama, serta kemampuan masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi lingkungan.

Karena itu, keberadaan forum diskusi yang melibatkan petani dan penyuluh dinilai penting untuk mendorong pertukaran informasi serta menemukan alternatif solusi yang sesuai dengan kondisi lokal.

Selain pengetahuan pertanian, kegiatan Tudang Sipulung juga mengangkat Mapatanre Tanra, yaitu pengetahuan masyarakat Bugis dalam membaca tanda-tanda alam untuk memperkirakan kondisi cuaca. Pengintegrasian kearifan lokal tersebut menjadi upaya untuk memperkenalkan kembali pengetahuan yang telah diwariskan secara turun-temurun dan memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian.

Melalui pendekatan tersebut, pengetahuan lokal tidak ditempatkan sebagai pengganti pengetahuan pertanian modern, melainkan sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan masyarakat yang dapat dikembangkan secara bijak. Pertemuan antara pengetahuan lokal, pengalaman petani, dan informasi dari penyuluh diharapkan dapat memperkaya cara masyarakat dalam memahami serta menghadapi berbagai tantangan pertanian.

Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat hubungan antara petani dengan BPP Kecamatan Bulupoddo dan jajaran penyuluh pertanian. Kolaborasi tersebut penting agar masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi, pendampingan, dan pengetahuan yang dapat menunjang produktivitas pertanian.

Bagi mahasiswa KKNT Gelombang 116 Unhas, kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi dalam mendorong masyarakat agar memiliki wadah yang dapat terus digunakan secara mandiri. Sanggar Tani diharapkan tidak hanya aktif selama pelaksanaan program KKN, tetapi dapat terus menjadi ruang diskusi, berbagi pengalaman, dan membangun kerja sama antarpetani setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Melalui Tudang Sipulung, mahasiswa KKNT Gelombang 116 Unhas berharap terbentuknya Sanggar Tani yang mampu menjadi wadah pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Keberadaan wadah tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas petani, menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal, serta mendorong terciptanya sektor pertanian Desa Lamatti Riaja yang lebih adaptif dan berkelanjutan.