Kupang – Gempa NTT kembali menjadi perhatian setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa mencapai 136 orang hingga Kamis, 10 September 2026. Dari jumlah tersebut, 88 orang meninggal dunia secara tidak langsung setelah sebelumnya sempat mendapatkan penanganan medis pascabencana.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan belasungkawa atas warga yang meninggal akibat bencana yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
“Kami menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya terkait meninggalnya sejumlah warga Indonesia akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari gempa bumi,” kata Berton dalam konferensi pers di Jakarta.
Selain korban jiwa, dampak gempa NTT juga terlihat dari kerusakan rumah warga. BNPB mencatat sebanyak 102.384 unit rumah mengalami kerusakan dengan kondisi yang bervariasi, mulai dari rusak berat, sedang, hingga ringan.
Untuk memastikan kondisi tersebut, BNPB bersama pemerintah daerah masih melakukan verifikasi di lapangan. Pemeriksaan dilakukan terhadap setiap rumah terdampak untuk menentukan tingkat kerusakan sekaligus menjadi dasar penyaluran bantuan stimulan pemulihan hunian.
Verifikasi Rumah Rusak Mencapai 70 Persen
Proses pendataan kerusakan bangunan saat ini telah menunjukkan perkembangan. Pemetaan di seluruh wilayah terdampak disebut sudah mencapai sekitar 70 persen dari total bangunan yang menjadi sasaran pemeriksaan.
BNPB menargetkan seluruh tahapan verifikasi dapat diselesaikan pada pekan berikutnya. Setelah proses tersebut rampung, pencairan bantuan perbaikan rumah diharapkan dapat segera dilakukan.
“Targetnya seluruh rangkaian proses verifikasi data fisik rumah rusak tersebut dapat dirampungkan secara menyeluruh pada pekan depan agar tahapan pencairan bantuan perbaikan dapat segera dieksekusi,” kata Berton.
Di tengah proses pendataan, bantuan logistik darurat juga telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian. Total bantuan yang didistribusikan BNPB mencapai 2.178 ton melalui dua posko utama.
Sebanyak 1.379 ton bantuan dikirim melalui pos di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Sementara 664 ton lainnya disalurkan melalui wilayah Maumere, Kabupaten Sikka.
Gempa M7,7 Guncang Flores
Bencana tersebut bermula ketika gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo. Sumber gempa disebut berasal dari Sesar Naik Busur Belakang Flores, salah satu patahan aktif yang membentang di sisi utara Kepulauan Sunda Kecil.
Sesaat setelah gempa terjadi, BNPB meminta masyarakat menjauhi kawasan pantai sambil menunggu perkembangan status peringatan dini tsunami.
“Melalui media ini, kami meminta masyarakat tetap tenang. Meski peringatan tsunami sudah dicabut, kami menghimbau agar masyarakat tetap menjauhi pantai,” kata Berton kala itu.
Masyarakat juga diminta tidak mendekati bangunan yang mengalami keretakan akibat guncangan. Imbauan tersebut disampaikan untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya susulan setelah gempa utama.
Kewaspadaan tetap diperlukan karena gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah terdampak. Penanganan bencana pun melibatkan BNPB, pemerintah daerah, dan sejumlah instansi terkait.
Setelah seluruh proses verifikasi kerusakan rumah dapat diselesaikan pada pekan mendatang, tahapan pemulihan diharapkan dapat berjalan lebih cepat.




Tinggalkan Balasan