BANYUASIN – Kondisi Taman Seng Simpang Y yang kini dipenuhi semak belukar menuai sorotan aktivis di Kabupaten Banyuasin. Aktivis mempertanyakan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuasin dalam merawat ruang publik tersebut, bahkan mencuat dugaan bahwa pembangunan taman hanya berorientasi pada kepentingan pihak tertentu, bukan keberlanjutan manfaat bagi masyarakat.
Sorotan itu disampaikan Aktivis Banyuasin, Sepriadi Pratama. Menurutnya, kondisi Taman Seng Simpang Y menjadi ironi karena fasilitas yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah justru terkesan tidak mendapatkan pemeliharaan secara optimal.
“Kalau sebuah taman dibangun menggunakan uang rakyat, kemudian setelah selesai justru dibiarkan terbengkalai, tentu publik berhak bertanya. Untuk apa pembangunan itu dilakukan kalau tidak disertai komitmen pemeliharaan?” ujar Sepriadi.
Ia menilai pemerintah daerah perlu terbuka kepada masyarakat mengenai perencanaan, pembangunan hingga pemeliharaan aset tersebut. Sebab, menurutnya, persoalan bukan hanya mengenai kondisi taman yang tidak terawat, tetapi juga menyangkut pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran daerah.
Sepriadi bahkan mempertanyakan apakah pembangunan taman tersebut benar-benar ditujukan untuk kepentingan masyarakat atau justru hanya memberikan keuntungan kepada pihak-pihak tertentu.
“Jangan sampai muncul persepsi di masyarakat bahwa proyek hanya menguntungkan kantong pribadi pejabat atau pihak tertentu. Kalau memang tidak demikian, pemerintah harus bisa menjelaskan secara terbuka berapa anggarannya, siapa yang mengerjakan, bagaimana pemeliharaannya, dan apa manfaatnya bagi masyarakat,” tegasnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan area Taman Seng Simpang Y yang semestinya menjadi salah satu ruang publik dengan nilai estetika justru tampak ditumbuhi semak belukar. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan lemahnya perhatian terhadap pemeliharaan aset daerah.
Sebagai bentuk penyampaian aspirasi, sebuah spanduk bertuliskan tagar #Apoujiku juga terpasang di sekitar lokasi. Spanduk tersebut menjadi simbol kritik terhadap kondisi fasilitas publik sekaligus pengingat agar pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan, tetapi juga memastikan keberlanjutan pemanfaatannya.
Sepriadi menegaskan kritik yang disampaikan bukan semata-mata untuk menyerang pemerintah daerah, melainkan sebagai bentuk kontrol sosial dan kepedulian terhadap tata kelola pemerintahan.
“Kritik ini kami sampaikan sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab moral kepada daerah. Kita tidak boleh menutup mata bahwa membiarkan aset daerah terbengkalai adalah sebuah ironi di tengah perjuangan membangun Banyuasin,” katanya, di Sukajadi, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Banyuasin segera melakukan evaluasi terhadap kondisi Taman Seng Simpang Y, termasuk memastikan kejelasan pengelolaan dan anggaran pemeliharaannya.
“Ruang publik dibangun menggunakan uang rakyat. Karena itu, pemerintah memiliki kewajiban moral dan manajerial untuk merawatnya secara amanah dan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari Pemerintah Kabupaten Banyuasin maupun pihak terkait mengenai kondisi Taman Seng Simpang Y serta tudingan yang disampaikan aktivis tersebut. Klarifikasi dari pihak pemerintah diperlukan untuk memastikan duduk persoalan dan menjelaskan pengelolaan serta pemeliharaan aset tersebut kepada publik.




Tinggalkan Balasan