By Abdul Sani
Domain.online.com(19-7-2026). Uraian ini berkisah cara sufi mencerahkan kehidupan dengan praktik amal saleh sederhana, namun menjadi pilihan beragama jalan lain sebagai tangga utama menuju Ilahi Allah ar- Rabbi.
Jejak tapak suci sufi mencari Ridha Allah, yaitu berupa membagi harta dengan cara aneh dan tidak lazim menurut prilaku umum. Adalah Zun Nun Al-Mishry, seorang sufi aneh dan langka dalam prilaku Sering nyeleneh dalam akhlak dalam kehidupan, bahkan gelar Zun nun (kegilaan) disematkan kepada beliau lantaran tindakan-tindakan keseharian.
Suatu Zun NU Al-Mishry berjualan di pasar seperti lazimnya kaum sufi ahli tasawuf (Thariqat) untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, mereka berdagang. Waktu jam shalat Jumat tiba, Zun Nun meninggalkan toko sembakonya sambil menempel tulisan aneh dan langka dibaca orang.Waktu shalat Jumat toko tidak tutup.”Pembeli dilarang Membeli Tapi boleh mengambil untuk keperluannya.
Pengumuman itu menarik perhatian pembeli-pembeli wanita Namun Zun Nun sudah pergi ke mesjid untuk shalat Jumat.
Mereka ada yang mengambil gula, minyak, tepung, kurma, bahkan memenuhi kebutuhan belanja umumnya. Namun tidak membayar.Karena pengumuman toko seperti itu. Mereka dengan tertib mengambil.sampai isi dagangan Zun-Nun habis ludes. Setelah habis para wanita pun bubar, yang membuat orang-orang bingung.
Setelah habis Jumatan, Zun Nun kembali ke tokonya.Beliau sujud syukur sambil berbisik lirih seperti doa: “Terimakasih wahai Allah hari ini barangku Kau beli semuanya. Besok bisa Maku isi lagi dengan barang yang baru”, semoga engkau berkenan dengan caraku ini meniru Engkau mbagi kasih-sayangMu kepada makhluk.Aku pakai sifat Rahman dan Rahim-Mu ini, untuk mencari jalan lain yang berbeda Aku memahami agama-Mu.” Zun Nun bangkit dari sujud syukur dengan muka cerah berseri luar biasa.
Di Hari lain, Zun Nur berjalan- jalan di keramaian orang, dengan baju dan jubah yang mewah terlihat benar-benar sebagai ulama sufi yang umumnya memakai gamis, bukan (surban besar) di kepala.
Ada di antara kenalan Zun Nun berkomentar,” Zun Nun hari ini Kau sangat luarbiasa.Bqhjan nampak sangat seperti ulama besar. Apa gerangan”. Yang lain ada juga menggumam,”Wah hebat Kau Zun Nun, tidak seperti biasa kau memakai baju robek-robek dan lusuh Hari ini nampak rapi luarbiasa bahkan memakai baju mahal”. Apa jawab Zun Nun,” kamu mau baju ini, nih aku kasihkan.”
Dengan seta-merta Zun Nun melepaskan semua jubah dan surbannya dan memberikannya kepada orang itu.
Zun Nun hanya memakai celana cingkrang ya pulan dan bersujud syukur lagi kepada “Allah Wahai Allah terimakasih Engkau ingatkan dan tegur prilaku yang tidak layak dariku memakai jubah kebesaran-Mu. Apa yang aku lakukan tidak diperkenankan hamba-hambaMu. Terimakasih ya Allah Engkau berikan Halan agama yang berbeda dalam hidupku Biarlah semua orang menyebutku sigila.Agar aku dapat menyadari yang Maha Waras dan Berilmu itu hanya Engkau. Jadikan jalanku ini jalan lain menuju ke haribaan Engkau yang Maha Ridha”. Zun Nun pun tersungkur pingsan dalam doa tafakurnya.
Jalan sufi yang menapak jenjang thariqat kepada Allah berliku namun asyik-mengasyikan. Mereka berlomba memberi harta, doa, tenaga, ilmu dan pikiran untuk membuktikan pengabdian kepada Allah meniru af’aal(perbuatan) Allah dalam berbuat, berprilaku dan beramal saleh di luar kebiasaan umum.Itu menjadi mereka selalu berbeda dalam beramal sosial.
Jangan ditanya lagi zakat mereka, sedekah mereka, infaq mereka sebagai simbol amal saleh dan jihad sosialnya. Alquran diwujudkan dalam tindakan nyata Perkataan (Allah) menjadi perintah yang, banyak ditafsirkan untuk dikerjakan dengan berbagai cara yang berbeda. Namun sangat nyata dan langka
Jalan naik ke tingkat “langit” dalam mewujudkan Amaliah menjadi cara Allah mempraktikkan IlmuNya untuk menjadi pelajaran Alquran “hidup” dalam keseharian dan berbeda cara mengamalkannya.
Sekian.Abdul Sani wartawan online tinggal di Kalimantan Selatan.

Tinggalkan Balasan