Jakarta, Domainrakyat.com — Penurunan suku bunga BI sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% telah diumumkan oleh Bank Indonesia (BI). Kebijakan ini merupakan langkah pertama setelah tiga kali pertemuan sebelumnya tanpa perubahan. BI mengambil keputusan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya dalam menghadapi ketidakpastian global.
Kebijakan Moneter untuk Stabilitas dan Pertumbuhan
Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa langkah ini selaras dengan proyeksi inflasi yang tetap rendah dan terkendali untuk tahun 2025–2026. “Keputusan ini juga bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi serta memperkuat momentum pertumbuhan nasional,” ujarnya.
Seiring penurunan suku bunga utama, BI turut menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 4,75% dan lending facility menjadi 6,25%. Harapannya, langkah ini akan mendorong perbankan memperluas penyaluran kredit guna menggerakkan permintaan domestik dan kegiatan ekspor.
Rupiah Menguat Usai Kebijakan BI
Pasca pengumuman, nilai tukar rupiah langsung menguat terhadap dolar AS. Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup pada level Rp16.395 per dolar AS, menguat lebih dari 3% dibandingkan posisi terendahnya pada April lalu. Penguatan ini tidak terlepas dari intervensi BI di pasar valuta asing serta sentimen global yang mulai membaik.
Pertumbuhan Ekonomi dan Tantangan Global
Meskipun kebijakan moneter telah dilonggarkan, tantangan ekonomi masih membayangi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tercatat hanya 4,87% secara tahunan—terendah dalam tiga tahun terakhir. BI pun merevisi proyeksi pertumbuhan 2025 ke kisaran 4,6%–5,4%, sedikit di bawah target pemerintah yang menargetkan 5,2%.
Presiden Prabowo Subianto optimistis pertumbuhan ekonomi akan mencapai 8% pada akhir masa jabatannya tahun 2029. Namun, lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings menyebutkan bahwa mencapai angka 5% pada 2025 pun menjadi tantangan berat, mengingat perlambatan global dan ketidakpastian dagang.
Prospek Kebijakan ke Depan
Para ekonom memperkirakan BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut hingga 5,25% pada akhir kuartal ketiga. Namun, tingginya volatilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor yang menghambat pelonggaran lebih agresif.
“BI akan lebih berhati-hati dalam penurunan suku bunga berikutnya karena faktor fluktuasi rupiah. Jika kestabilan rupiah bisa dipertahankan, peluang untuk penurunan lebih lanjut tetap terbuka,” ujar Lavanya Venkateswaran, ekonom senior ASEAN dari OCBC Bank.
Kesimpulan
Penurunan suku bunga BI menjadi sinyal kuat bahwa bank sentral siap mendukung pemulihan ekonomi nasional, sembari menjaga stabilitas nilai tukar. Dengan inflasi yang terkendali dan penguatan rupiah, BI diperkirakan tetap menerapkan strategi pelonggaran moneter secara bertahap dan terukur guna menjaga keseimbangan makroekonomi Indonesia.